MAAF, AKU MENGAGUMIMU Eps. 2 -OGIROGISNO
Perhatian
:
Apa
yang saya tulis, adalah bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami.
Ketahuilah, bahwa cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya. Selamat
membaca.
Sudah
hampir dua pekan aku berusaha tak bertemu dengannya. Tak kuketahui tentang
hari-harinya.Tak kudapati juga kabar darinya. Dia; kekagumanku. Kata orang,
rasa rindu akan hadir ketika lama tidak bertemu. Inikah rasa yang dia maksud?
***
Senja
sewarna teh lemon kembali datang. Aku duduk diteras depan rumah, dengan catatan
pribadiku. Memandangi matahari danbulan yang akan bergantian tugas. Memandangi
sore dan malam yang akan berpapasan. Terlepas dari sebuah rasa yang seseorang
asumsikan, aku selalu menikmati detik-detik seperti ini. Detik-detik dimana
Jemari Tuhan mengatur warna pada atap kehidupan. Detik-detik dimana orange
berubah menjadi hitam.
Seperti
biasa. Pemandangan seperti itu menghempaskan ingatanku pada sosok yang selama
ini selalu kuindahkan namanya. Yang selama ini selalu menjadi alasan jatuhnya
kristalis cair dari mataku; dia kekagumanku. Di sana; disesuatu yang sewarna
teh lemon itu, seperti banyak menyimpan kisah tentang sosoknya.
Oh
iya aku lupa. Kautahu? Setiap apa yang tergurat secara nyata antara kau
denganku, aku selalu mengadu pada senja dan catatan pribadiku ini. Entah itu
saat kauabaikan perjuanganku. Saat kaumemasabodokan rasaku. Atau saat
kautakpedulikan hadirku. Merekalah yang menjadi saksi bisu semua tentangku.
Tentang kesakitanku-karenamu.
“Lantas
kenapa kau mengagumi seseorang yang mengabaikan perjuanganmu? Yang
memasabodokan rasamu? Atau yang…” Bisikan penyadar datang memekakan telingaku.
Aku;
Entahlah, akupun takmengerti dengan rasaku sendiri.
“Tak
mengerti? Bodoh! Kenapa kau tak mencoba membenci dan melupakan sosoknya? Agar
kaulupa dengan rasamu sendiri”. Bisikan penyadar itu menyudutkanku.
Jadi
ini semua salahku? Salahkah aku jika aku ingin menomorsatukannya dalam hidupku?
Kenapa diam? Jawab! Mencoba melupakannya? Itu sudah! Hal sejenis itu sudah
kulakukan. Iya,Sudah! Tapi,memaksa diri sendiri untuk membenci dan melupakan
tentang sosok yang kita kagumi, itu hanya akan membohongi hatimu ketika sebenarnya
kau tak bisa benci dan lupa-terhadapnya. Benarkan?
Perlahan,
sesuatu yang sewarna teh lemon itu mulai pudar. Digantikan dengan warna hitam
dan serta-merta bintang-bintangnya. Ritualisasi tersebutlah yang kemudian
mengundang suara-suara penyeru Tuhan untuk dikumandangkan. Sedang aku masih
khusyu memandangi permainan indah Jemari-Nya. Sedang aku masih khusyu
mengingat-ingat semua tentang kesakitanku-karenamu. Apaguna? Tidak ada. Aku
berlalu.
Setelah
mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, aku kembali pada posisiku semula; duduk
diteras dengan catatan pribadiku. Lalu, aku mendongak. Memandangi atap
kehidupan malam hari dengan lebih eliti. Di sini, di teras ini. Terlihat dengan
jelas binar-binar wajahmu yang terlukis oleh bintang-bintang. Memesona lewat
hembusan angin malam. Aku; dibuat kagum oleh-Nya. Ingatanku; (kembali) dibuat
terhempas pada sosok yang tak berperasa sepertinya.
Gemercik
air hujan turun dari langit, dari atap kehidupan itu. Karenanya, binar-binar
wajahmu yang terlukis oleh bintang-bintang; terhapus. Aku tak pedulikan itu.
Aku kembali sibuk dengan catatan pribadiku. Mengingat kenangan dan
menupahkannya pada tulisan. Teriakan hati yang mampu tertuliskan adalah
kebahagiaanku, meski ketika mengingatnya itu sangat menyakitkan. Kasihan memang,
tapi, menyenangkan. Aneh bukan?
Catatan
pribadiku telah terisi banyak. Lebih dari setengahnya dan hampir mendekati sisa
umurnya adalah tulisanku semua. Dan seluruhnya adalah tentang sosokmu. Sosok
yang selama ini selalu kuindahkan namanya disetiap jeritan-jeritan hatiku.
Kukira tidaklah berlebihan ketika aku mempersembahkan hidupku hanya untuknya.
Nyatanya, perkiraanku adalah terkaan konyol.
Selalu
kuindahkan namanya bukan berarti selalu memberi aliran kebahagiaan untukku. Ini
seperti satu keping uang logam, yang kedua sisinya memiliki gambar berbeda,
sebut saja yang bertentangan. Dia yang kukagumi, adalah dia yang selalu
menyakiti. Dia yang kuindahkan namaya adalah dia yang selalu tak pedulikan
hadirku dihidupnya. Lelah memang menjadi sepertiku, tapi kecintaan seseorang
akan terus berlanjut jika rasa hatinya hanya menginginkan orang tersebut.
Kecuali, Tuhan menurunkan hidayah penyadar kepadanya. Kepadaku misalnya.
Thanks
for Reading. To Be Continue.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.