PENTING! PESAN ILLUMINATI DIBALIK FILM INDONESIA -OGIROGISNO
Di sini, saya tidaklah bermaksud menyerang atau membuat
tuduhan-tuduhan kepada orang perorang ataupun kelompok tertentu. Tulisan
ini tak lain adalah untuk memberikan informasi seluas-luasnya kepada
semua sahabat dan saudar-saudaraku diseluruh dunia pada umumnya dan di
Indonesia pada khusunya. Pahami baik-baik
Saya harap,
anda sudah pernah mendengar nama Aliester Crowley, Kakek dari George
Bush, adalah seorang pelopor satanisme dunia. Belum pernah denger?
Silakan cari tau dulu di mbah Google. Dia (Aliester Crowley) adalah
seorang anggota Illuminati yang menduduki kedudukan suci di organisasi
tersebut. Bahwa menurut pendapatnya untuk mencapai tujuan "NEW WORLD
ORDER" yaitu satu dunia satu penguasa/pemerintahan (dunia sekuler)
adalah dengan menyebar paham sesat satanisme melelalui propaganda
simbol-simbol (dalam film SP terdapat simbol piramid yang disamarkan),
menyerang keyakinan umat beragama dengan menimbulkan kerancuan-kerancuan
ajaran melalui fanatisme, propaganda cinta sesama jenis (homo/lesbi),
yang mana itu semua bertujuan untuk menghilangkan nilai-nilai moral dan
menjauhkan manusia dari Tuhan.
Dalam film yang
dibintangi aktris Revalina S Temat (Annisa) tersebut diambil dari Novel
PBS (Perempuan Berkalung Sorban) karya Abidah El Khaleqy. Novel PBS
sebelumnya mendapat penghargaan dari The Ford Foundation, sebuah NGO
yang memperjuangkan paham Sepilis dan dikendalikan kaum Zionis Yahudi
AS. Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya.
Pesantren dan kiyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis,
mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat,
menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, suka main bakar
buku-buku komunisme, suka main hukuman rajam secara serampangan dan
sebagainya.
Dikisahkan, seorang santriwati yang
juga putri kiyai pesantren, Annisa, dan tinggal dikompleks pesantren,
frustasi karena ulah suaminya yang juga anak seorang kiyai yang sering
melakukan kekerasan, akhirnya dia memutuskan untuk kembali dalam pelukan
mantan pacarnya, Khudori, seorang alumnus sebuah perguruan tinggi di
Kairo, Mesir. Bahkan, Annisa yang sudah kebelet, mengajak Khudori untuk
melakukan adegan ranjang di sebuah kandang kuda di pesantren tersebut,
padahal kandang itu penuh dengan kotoran kuda. "Zinahi aku ... Zinahi
aku ...", desak Annisa kepada Khudori sambil melepaskan jilbab dan
pakaiannya satu persatu.
Ketika kedua insan lain
jenis dan bukan suami istri tersebut sedang melakukan perzinahan,
akhirnya datang rombongan santri dan suami Annisa mengerebeknya. Lalu
keduanya mendapat hukuman rajam dengan dilempari batu oleh para santri.
Lemparan batu baru berhenti setelah ibu Annisa berteriak sambil
mengatakan, "Yang boleh melempar batu hanya orang yang tidak pernah
melakukan dosa!", padahal tidak ada orang yang tidak pernah melakukan
dosa. Kata-kata dari ibu Annisa ini jelas mengutip dari cerita Kristen
dari Kitab Injil, dimana dikisahkan seorang pelacur, Magdalena, dihukum
rajam dengan dilempari batu. Kemudian datang Nabi Isa (Yesus) untuk
menyelamatkannya dengan mengatakan, "Yang boleh merajam hanya yang tidak
punya dosa!". Jadi selain berbau Sepilis dan Komunis, film PBS juga
beraroma Kristiani dan berusaha menghancurkan Islam lewat pintu budaya
melalui film.
Jelas dengan menampilkan hukuman
rajam yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya, sang sutradara
ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci syariat Islam dan
pesantren, sebab sejak dulu pesantren merupakan basis terkemuka dalam
melawan gerakan PKI di Indonesia. Padahal itu hanya utopia dirinya
sendiri, sebab selama ini belum pernah ada satupun pesantren di
Indonesia yang melakukan hukuman rajam kepada santrinya yang melakukan
perzinahan. Seolah-olah pesantren merupakan negara dalam negara dengan
menegakkan hukumnya sendiri. Jelas ini merupakan distorsi terhadap hukum
Islam dan upaya mengadu domba umat Islam dengan pemerintah. Dengan
membuat film PBS, sesungguhnya sang sutradara telah melakukan anarkhisme
psikis, yakni melakukan penyerangan secara psikis terhadap umat Islam
dan pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia. Karena
dendam terhadap pesantren yang telah berjasa menghancurkan PKI, maka
Hanung menyalurkan perlawanannya lewat film PBS. Sang sutradara dengan
sengaja telah menebar virus ganas Sepilis dalam film, tujuannya untuk
menimbulkan citra buruk terhadap Islam dan umatnya sambil menebalkan
kantong koceknya.
Sebagaimana dalam film Lentera
Merah, dalam film PBS sang sutradara all-out mendukung Komunisme alias
PKI isme. Terbukti dalam film PBS ada adegan pembakaran buku-buku karya
Karl Mark dan sastrawan Kiri Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia,
oleh para santri di lingkungan pesantren. Padahal dalam novel aslinya,
jalan cerita tersebut tidak ada sama sekali. Bahkan buku-buku karangan
Pramoedya seperti Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa sepertinya
dijadikan bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya. Hal ini
menunjukkan sang sutradara selain pengagum Karl Mark juga pengagum
Pramoedya. Padahal banyak sastrawan sekaliber Pramoedya dan
karya-karyanya malah lebih bermutu seperti Buya Hamka. Mengapa sang
sutradara tidak menjadikan buku-buku Buya Hamka sebagai bacaan wajib
bagi Annisa dan para santri lainnya? Justru buku sastrawan yang pernah
menghuni penjara di Pulau Buru itu dijadikan bacaan wajib.
Dengan
demikian, sudah sangat jelas dalam film PBS terdapat motif ideologi
Komunis yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kembali tegaknya Komunisme
di Indonesia meski dalam bentuk lain. Sang sutradara mafhum betul bahwa
satu-satunya jalan untuk mengembalikan ajaran Komunisme di Indonesia
adalah mendiskreditkan ajaran Islam dan umatnya, dimana sasaran
pertamanya adalah pondok pesantren yang selama ini menjadi basis kaum
Nahdhiyyin dengan memojokkan para kiyai NU.
Adapun
sasaran berikutnya adalah mendiskreditkan para pemimpin Islam di
Muhammadiyah. Sebab kedua Ormas Islam ini mempunyai pengikut terbesar di
Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika sang sutradara sengaja
meluncurkan film KH Ahmad Dahlan "Sang Pencerah" tepat pada pelaksaan
Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogjakarta 2-8 Juli. Namun anehnya justru
para pemimpin Muhammadiyah tidak curiga sama sekali akan sepak terjang
sang sutradara selama ini yang selalu mendiskreditkan Islam dan para
pemimpin Islam seperti dalam film PBS. Sekarang sudah terbukti, pemeran
utama sebagai KH Ahmad Dahlan dalam film "Sang Pencerah" adalah Lukman
Sardi, putra seorang komponis muslim dan pemain biola kawakan, Idris
Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen.
Bayangkan, seorang ulama besar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan kok
diperankan oleh seorang murtad, jelas ini suatu penghinaan
terang-terangan terhadap Islam dan Muhammadiyah itu sendiri. Apa Ketua
Umum dan 12 Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang terpilih dalam
Muktamar tidak malu ketika melihat pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan
dilecehkan dan direndahkan pribadi dan martabatnya.
Dalam
"Kamus Wikipedia" Illuminati dapat diterjemahkan sebagai "Pencerahan
Baru" para pengikut Illuminati yang disebut Illuminatus berarti "Yang
Tercerahkan". Nah, sekarang saya ingin bertanya kepada hati anda, siapa
berarti "Sang Pencerah" tersebut? Tidak lain dan tak bukan kecuali DAJAL
atau LUCIFER. Wallahualam Bisawab.
Berikut adalah film Hanung yang menuai kontroversi, diantaranya :
1. Perempuan Berkalung Sorban (2009);
2. Tanda Tanya (2011);
3. Cinta Tapi Beda (2012);
4. Gending Sriwijaya (2013); dan sekarang,
5. Soekarno (2013).
Penilaian tentang semua ini saya kembalikan pada hak masing-masing. Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke Facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.