MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Lima -OGIROGISNO
Ditulis oleh : Ogi Rogisno
Apa yang saya tulis, bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami.
...
"Kamu kok mau kerja jadi Cleaning Service, dik? Usiamu masih muda kan? Berapa?" Mas Fandi angkat bicara. Sepaket dengan menanyakan usiaku. Apa perlu aku tunjukan Kartu Tanda Pendudukku?
"Kenapa mesti gak mau, Mas? Dari pada kerja buruh pabrik? Aku pikir, lelahnya lebih dari ini."
Sebelum menyela, dia duduk ditempat Mas Ridwan tadi duduk.
"Enggak! Maksud Mas, kenapa gak jadi sales atau apalah yang sesuai ijazahmu. Biar lebih enak."
"Kerjaan gak ada yang enak, Mas. Semua butuh pengorbanan. Lulusan SMA kaya aku di zaman kaya gini, gak usah muluk pengen kerja yang enakan. Jadi sales aku pernah. Cuma sebulan aku keluar. Gak betah sama lingkungan kerjanya. Siapa yang bilang kerja begini tak sesuai ijazahku? Bawa orang itu kehadapanku! Oh iya, Mas lulusan S1 ya? Kerjaan Mas enak gak?" Tanyaku menyudutkan.
"Aakuu eennak kok. Eenak." Ucapnya gelagapan.
"Yakin? Kok ngomongnya gelagapan? Mas gak boleh memaksa hati Mas agar berbeda perasaan dengan apa yang dia rasakan loh. Gak baik. Apa ruginya jujur sih, Mas?"
"Jujur, dik. Memang gak enak sih, dik. Gak selalu kerja yang duduk melulu, diruangan nyaman, kaya di Bank ini, berarti enak. Ada ketidaknyamanan di sini." Akuinya dalam-dalam. Disertai menujuk dadanya ketika berucap 'di sini'.
Aku tersenyum. Seolah mewakili mulutku yang harusnya bicara 'Tuhkan, Mas. Kerjaan itu gak ada yang enak!'.
"Jatuhnya tergantung kitanya sih, Mas. Kalau kita bisa nyaman di suatu lingkungan, pasti bisa bertahan. Oh iya, Mas. Tadi Mas nanya usiaku ya? Usiaku nineteen, Mas."Aku merasakan mataku berat. Seperti ada genangan dibulatnya dia. Aku khawatir genangan itu nantinya meluncur deras. Aku berusaha menahan dengan kekhawatiran.
"Wah masih muda ya dik. Kamu gak kuliah langsung?" Tanyanya sepele tapi membuatku terhempas pada masa lalu.
"Yang janji mau nguliahin aku udah dipanggil Allah, Mas. Ayahku."
"Hah? Maaf, dik. Mas gak bermaksud."
"Santai, Mas. Kalau aku boleh request, jangan tanya bagian ini lebih dalam lagi ya, Mas." Kataku lirih.
Fandi Asyidiq, dia menarik nafasnya dalam-dalam. Dalam tarikan nafasnya, terlihat ada kesakitan yang menggumpal. Hingga membuat nafas itu tersendat-sendat. Tak stabil. Mungkin, dia merasakan apa yang kurasakan. Dia memandang jauh. Jauh terhempas pada masa lalunya. Dia angkat bicara.
"Ayahnya Mas juga sudah dipanggil-Nya, dik. Kalau Mas boleh request, mas juga gak mau membahas bagian seperti ini. Kehilangan memang selalu menyakitkan." Paparnya diiringi opini.Aku tercenung mendengar ceritanya. Kemungkinan perasaan yang awalnya hanya aku raba—rasa—tebak, ternyata benar adanya. Ayahnya, seperti Ayahku. Ayahnya, dipanggil-Nya.
Krekek (lagi). Pintu Generator Set dibuka seseorang. Mas Fandi berhenti mengeluarkan omongan saat bunyi itu terdengar. Dia Mas Ridwan. Membawa bingkisan sesuai permintaan. Oh, ini sudah ku nanti-nantikan. 'Lemonia-lemonia' rengekku melambai-lambaikan tangan. Dasar bocah!
"Mari kita ahlikan topik pembicaraan, Mas." Cetusku ungkapkan ide.
"Kamu suka sastra, ya?" Tanya Mas Fandi yang setuju mengalihkan pembicaraan.
"Suka, Mas. Kenapa? Aku suka musik serta—merta didalamnya, juga. Ya, meski mas gak tanya aku suka musik atau enggak!"
"HaHa kamu lucu, dik. Gapapa dik. Aku lihat dari caramu bicara. Orang yang suka sastra, sering baca, banyak daya, banyak rasa, tutur bahasanya, rapih dan memesona. Sepertimu, kurasa." Mas Fandi beropini tentangku. Dalam opini yang berlebihan.
"Oh ya? Ah aku rasa biasa saja, Mas. Perkatanmu itu, harus aku golongkan ke dalam sanjungan atau hinaan, Mas? Kalau sanjungan, itu berlebihan. Kalau hinaan, aku sakit di sini (baca; hati)."
"Loh loh? Jelas sanjungan tak berlebihan lah. Itu kenyataan yang tak bisa difiksikan!" Jelasnya sedetik setelah aku bicara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.