Dari
banyaknya makhluk bernama manusia yang membaca ceritaku dengan menggunakan
logika dan perasaannya. Mereka menitikan air mata secara sukses. Lalu bagaimana
dengan pemula sepertimu? Siapkah seperti orang terdahulumu? Oke fine.
Simpelnya, Jika kamu tidak menitikan kristalis air matamu saat membaca ceritaku ini. Kemungkinannya ada Dua.
Kalau tidak membacanya dengan Logika dan Perasaanmu, Berarti kamu tidak punya keduanya. *Upss
---Mempersembahkan---
Cerita ini hanyalah luapan dari pikiran dan perasaan.
Yang dituangkan dalam catatan harian.
Jadi apabila ada kesamaan dalam nama tokoh, tempat, waktu,
dan peristiwa itu memang benar adanya.
Cimahi-Kuningan, 01 November 2010
Namaku Ogi Rogisno. Aku di lahirkan di sebuah wilayah terpeta yang udaranya sangat sejuk. Pepohonan yang masih menghijau, rindang dan menawan. Membuat hidupku lebih bahagia setiap saat ; Setiap helaan nafas. Di tambah lagi dengan kicauan burung-burung cantik yang sesekali hinggap di pepohonan. Huffhh ... rasanya membuat hatiku lebih tenang. Lebih riang. Dan lebih dari yang lebih lainnya. Tapi, hari ini hidupku tidak lagi bahagia. Sudah satu tahun lamanya Ayahku terbaring sakit di atas tempat tidur ; Melemas tak berdaya. Padahal berbagai tempat alternatif pengobatan sudah kami singgahi. Menurutui setiap anjurannya. Tapi Ayah tak kunjung sembuh. Tak kunjung tersenyum seperti dulu. Mungkin semua ini adalah Rencana-NYA.
Pagi itu tepat Hari Jum’at, 19 februari 2010 pukul 05.00 WIB. Aku terbangun dari tidur lelapku. Tanpa membuang waktu yang terus berjalan, aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat shubuku. Ketika itu, saat aku hendak melaksanakan shalat shubuh. Dengan suara rentanya yang terbaring lemas di atas tempat tidur, Ayah memanggilku.
“Nak, sini nak ! Tolong ambilkan segelas air putih untuk ayah. Ayah sangat haus !” Pinta ayah dengan nada suara yang begitu pelan. Ohh… ternyata Ayah haus dan memintaku mengambilkan segelas air putih untuk meredakan dahaganya. Gumamku dalam hati.
Satu menit berlalu. Aku menghampiri ayah dengan membawakan segelas air putih sesuai pintanya. Lalu bertanya.
"Yah, ini air putihnya. Harus Ogi simpan di mana?” Tanyaku dengan wajah polos.
“Simpan saja di atas meja nak !” Jawab ayah dengan nada suara seperti orang yang kesakitan.
Setelah air tersebut ku simpan di atas meja sesuai permintaan lembutnya. Aku segera melaksanakan shalat subuhku-Kepada-NYA. “Ya Allah, Yang Maha Pemberi Sakit dan Maha Pemberi Kesembuhan. Kini sakitmu mendera seseorang terkasihku. Maka Sembuhkanlah ia dari pemberian-MU yang tak diharapkan itu. Hamba sudah tidak kuasa melihatnya terbaring lemas di atas tempat tidur. Melemas tak berdaya. Dan, berikanlah hidayah-MU kepada seseorang terkasihku itu Tuhanku. Aku mohon”. Do’a yang sempat ku Panjatkan kepada Tuhan selesai melaksanakan shalat shubuh demi kesembuhan ayahku tersayang.
Beberapa saat kemudian. Cahaya sang surya mulai terpancar dari ufuk timur. Sedikit demi sedikit suasana pagi mulai tercipta. Aku segera membereskan tempat tidurku semalam. Saat khusunya aku membereskan tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara ibu memanggilku.
“Gi, sini nak ! Tolong suapi ayahmu dengan bubur ini, soalnya dia kan belum sarapan. Ibu mau nyuci baju dulu. Udah numpuk”. Pinta ibu dengan memberikan semangkuk bubur kepadaku.
“Baik bu!” Jawabku sambil tersenyum dan berlalu.
Ketika aku tengah menyuapinya dengan sebuah kasih sayang. Tiba-tiba tetesan air mata menitik dari mata indahku ini. Aku terkesima melihat kondisi ayah yang terbaring lemas dan setiap hari berada di atas tempat tidur. Ayah bertanya.
“Anakku, kenapa kamu menangis? Apa yang sudah terjadi padamu nak? Bilang sama Ayah”. Tanya ayah dengan nada suara sedih dan penuh kekhawatiran.
Seketika aku langsung terdiam dari tangisanku dan menghapus air mataku tanpa menjawab pertanyaan Ayah. Ayah yang sedari tadi mengkhawatirkanku. Ayah memang begitu. Tetap memerdulikan orang lain walau beliaulah yang sebenarnya pantas untuk diperdulikan. Duhh Ayah.
“Sudahlah nak, Jangan kamu menangis lagi. Usap air matamu itu. Ayah tahu kamu sudah tidak kuasa lagi melihat kondisi ayah yang seperti ini. Tapi kan semuanya sudah di gariskan oleh Tuhan nak. Ayah yakin di balik semua ini Tuhan merencanakan sesuatu yang begitu indah untuk kita. Yang penting kamu jangan lupa shalat dan berdo’a kepada-NYA demi kesembuhan Ayah ya”. Imbuhnya sambil mengelus-ngelus kepalaku.
Singkat cerita. Hari mulai siang dan matahari berada tepat di atas kepala. Cuaca yang begitu panas di sertai hembusan angin sepoi-sepoi membawaku terbang melayang ke dunia khayal. Rasanya ingin sekali memutar keadaan ini. Tapi, seperti yang ayah katakan. Bahwa semuanya sudah di gariskan oleh Tuhan. Kita sebagai makhluk ciptaan-NYA tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha dan berdo’a. DIA-lah yang mementukan. Ketika aku tengah duduk di atas sebuah kursi yang terbuat dari kayu sambil berkhayal. Tiba-tiba ”Allahuakbar Allahuakbar” Suara-suara penyeru telah di kumandangkan. Pertanda telah masuk waktunya shalat dzuhur. Aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dzuhur. Di atas sebuah sajadah nan bersih. Aku bersujud. Berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. meminta ampunan dan kesembuhan untuk ayahku. Hal seperti itu selalu aku lakukan setelah melaksanakan shalat. Dan semuanya aku lakukan dengan hati yang ikhlas serta penuh penyerahan diri kepada Sang Maha Pemberi Kesembuhan. Demi kesembuhan ayahku tersayang. Kini, yang bisa aku lakukan hanyalah berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Beberapa jam kemudian Ayah memanggilku.
“Gi, sini nak !” Panggil Ayah dengan nada suara seperti orang yang kesakitan.
Aku segera menghampirinya dan berkata. “Iya Ayah, ada apa memanggilku?” Ucapku disertai pertanyaan.
Dalam hati aku berkata ”Kenapa tatapan mata ayah berbeda? Tatapan matanya seperti orang yang ketakutan. Tuhan sebenarnya apa yang terjadi pada ayahku?”.
Ditengah sunyinya suasana. Ayah angkat bicara. “Duduklah, Ayah mau bicara” Pinta Ayah kepadaku agar segera duduk.
Aku pun segera duduk dengan hati yang penuh pertanyaan."
“Mau bicara apa yah? Sepertinya sangat penting untuk di bicarakan !” Tanyaku dengan wajah kebingungan.
“Begini nak. Jika nanti Ayah tidak ada lagi disampingmu. Ayah berpesan kepadamu. Jangan lupa shalat dan berdo’a kepada Tuhan. Buatlah Ayah tersenyum bangga atas perilaku baikmu. Jangan menjadi orang yang malas dan nakal. Bantulah ibumu jika kamu ada waktu untuk membantunya. Jadilah anak yang sholeh dan ramah kepada semua orang. Do’akan ayah selalu jika nanti ucapan Ayah ini nyata. Raihlah Cita citamu dengan kesungguhan ya Nak. Jangan tergiur oleh rayuan duniawi yang fana. Yang tak bermanfaat untukmu diakhirat kelak. Itu pesan Ayah untuk kamu nak. Tolong ingat baik-baik ya nak ! Jalani dengan senyuman”.
Seketika, pembicaraan Ayah terhenti melihat derasnya air mataku yang menitik. Aku bertanya.
“Kenapa ayah bicara seperti itu? Kenapa Ayah membicarakan yang tidak seharusnya di bicarakan dan tidak diketahui nanti jadinya oleh manusia? Kenapa?” Tanyaku dengan tangisan yang mendalam.
“Itu kan hanya jika, belum tentu benar atau tidaknya, nak !” Jawab ayah dengan nada suara pelan.
“Tapi, Ogi tidak menginginkan hal itu terjadi sama sekali yah ! Sangat tidak menginginkannya”. Sambungku dengan tangisan yang tersedu-sedu.
“Iya nak Ayah tahu. Ayah sangat tahu perasaanmu. Ayah juga tidak menginginkan hal itu terjadi nak. Tapi, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak terkecuali dengan ayahmu ini nak ! Kamu yang sabar saja menghadapi semua ini ya ! Ayah bangga terhadapmu”. Imbuhnya sambil mengelus-ngelus kepalaku.
Dan sesaat suasana menjadi haru. Dentingan jam dinding seperti melengkapi. Menciptakan alunan alunan lagu kesedihan.
Singkat cerita. Matahari pun mulai berpindah ke ufuk barat. Haripun mulai petang. Setelah selesai melaksanakan shalat isa. Aku mendapatkan kakak perempuanku yang tengah duduk di sebuah kursi dengan rasa gelisah. Aku bertanya.
“Kakak kenapa? Sepertinya kakak tengah gelisah, apa yang sudah terjadi dengan kakak?” Tanyaku sambil menghampirinya dan duduk bersebelahan degannya.
“Nggak kok adikku sayang. Kakakmu ini lagi gak enak badan aja !” Jawabnya sekenanya dengan wajah yang kusut.
Sunyinya malam membuatku yang tengah duduk di sebuah kursi menjadi terdiam,termenung memikirkan perkataan ayah tadi siang. Tiba-tiba terdengar suara Ayah yang memanggil Ibu.
“Bu ... bu ... !” Pnggil Ayah dengan nada suara pelan.
“Iya Ayah, ada apa?” Jawab ibu sambil menghampirinya.
“Ayah haus bu. Sepertinya Ayah ingin sekali minum teh dengan perasa yang manis” Jawab ayah di sertai permintaannya.
“Iya Ayah, Ibu buatkan dulu apa yang Ayah minta ya, Tunggu sebentar !” Sambung ibu yang kemudian segera bergegas ke dapur.
Selang beberapa saat. Ibu kembali menghampiri Ayah dengan membawa segelas teh dengan perasa yang manis sesuai permintaan Ayah. Dan berucap.
“Ini Ayah teh manisnya. Ibu suapin ya !” Tawar ibu dengan penuh kelembutan.
“Iya bu !” Tutur ayah sambil tersenyum.
Setelah selesai memberi Ayah minum. Ibu kembali ke dapur dan beres-beres.
Malam itu, tepat pukul 22.00 WIB. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Saat Ibu memasuki kamar tempat Ayah terbaring dengan ketidakberdayaannya. Ibu melihat Ayah yang tengah tertidur lelap dan berkata.
“Duhh ... Ayah ini tidurnya lelap sekali !” Ucap ibu sambil menghampirinya.
Tiba-tiba setelah Ibu perhatikan. Ternyata ayah sudah tidak lagi bernafas. Jantungnya berhenti berdetak, dan nadinya berhenti berdenyut. Dengan hati was-was dan ketakutan ibu memanggilku dan kakakku.
“Astagfirullah Aladzim. Ade ... Kakak ... ! Cepat kesini, Ayah kalian sudah tidak ada !” Tutur Ibu dengan suara terpontang-panting tidak jelas. Kesedihan menyelimuti ; Haru.
Aku dan kakak perempuanku yang tengah santai. Terkejut mendengarnya dan langsung menghampiri ibu. Aku bertanya.
“Kenapa bu, kenapa? Ada apa dengan Ayah bu? Ayah baik-baik saja kan?” Tanyaku diiringi tangisan.
Kakak perempuanku mencoba menenangkan aku dengan menjelaskan semuanya secara lembut kepada adiknya : Aku.
“Sudahlah de. Sudahh. Kesabaran kita tengah diuji oleh-NYA. Ayah kita sudah tidak ada. Tidak akan ada lagi disamping kita. Dia sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya de. Selamanya”. Jelas kakakku yang kemudian menempelkan pelukannya pada tubuhku.
“Apa? Ayah ... ” Teriakku yang kemudian membangunkan tetanggaku dari tidurnya.
“Ayah ... Kenapa Ayah tinggalkan aku di sini. Bersama kesedihan ini. Kenapa Ayah pergi secepat itu? Kenaoa Ayah? Apa ini rencana yang indah dari Tuhan untuk kita? Seperti yang Ayah katakan tadi Siang. Jika benar ini rencana-NYA. Kenapa rencana-NYA sesakit ini Ayah? Kenapa? Jawab pertanyaanku Ayah. Jangan diam membisu seperti itu". Sambungku dengan menggoyahkan jasad yang terbaring didepan mataku dan yang kemudian mengundang datangnya orang banyak ke rumahku.
Seiring berjalannya waktu. Semua sanak saudaraku telah ada di rumahku. Suasana malam yang hening dan haru. Membuat semua orang yang ada di rumahku meneteskan air mata. Air mata kesedihan : bela sungkawa. Kejadian silam itu memang masih melekat di benakku. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa,hanya terdiam dan meneteskan air mata tanpa merubah keadaan. Tuhan ... Kenapa kau berikan cobaan yang begitu berat bagi hamba-MU yang lemah dan tak berdaya ini.
Singkat cerita. Sepeninggalnya Ayah. Rumah menjadi sepi. Di tambah lagi ibu sering merenung sendiri. Tapi, aku dan kakakku selalu mencoba untuk menghiburnya. Duhh Ayah ... Andaikan Ayah masih hidup ya. Pasti hari-hariku tak kan bangkai seperti ini. Oh iya ... Ayah masih ingat tidak saat aku membuat Ayah bangga dengan peringkat satuku. Dengan juara tiga lomba puisiku. Dan dengan apa-apa yang Ayah inginkan. Ayah masih ingat kan. Tapi ayang ya, Ayah mengingat dengan jarak yang tak dekat. Tak dekat dengan Aku sebagai Anakmu. Ayah, Jika kau mendengar jeritan-jeritan hatiku yang memanggil namamu. Yang merindukanmu. Maka datanglah dalam mimpiku. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan memelukmu. Akhir cerita, Ketika waktu memisahkan kita. Kita tidak bisa lagi bersamanya. Ketika waktu memisahkan kita. Kita tidak bisa lagi melihat senyuman manisnya. Ketika waktu memisahkan kita. Waktu merubah segalanya. Dan kini, Aku hanya bisa berkata “AKU RINDU AYAHKU”.
---Selesai---
Terima kasih kepada pembaca rupawan yang telah menyempatkan Waktu, Mata, Logika dan Perasaannya untuk membaca karyaku. Berpikir dan berkhayal keras dari setiap goresan-goresan penaku. Maka tunggu karyaku selanjutnya dan liarkanlah pikiranmu saat membacanya. Masih tahap belajar. Jadi maaf kalau kurang enak di baca. -OgiRogisno
Follow us my twitter : @OgiRogisno
Dikutip dari kisah nyata. Kisah hidup penulis cerita. Cerita ini awalnya sebagai Tugas Bahasa Indonesia saat saya menduduki kelas X3. Berhubung banyak request yang masuk, jadi saya terbitkan. Maaf jika Ceritanya tidak bagus. Saya masih belajar.
Simpelnya, Jika kamu tidak menitikan kristalis air matamu saat membaca ceritaku ini. Kemungkinannya ada Dua.
Kalau tidak membacanya dengan Logika dan Perasaanmu, Berarti kamu tidak punya keduanya. *Upss
---Mempersembahkan---
Cerita ini hanyalah luapan dari pikiran dan perasaan.
Yang dituangkan dalam catatan harian.
Jadi apabila ada kesamaan dalam nama tokoh, tempat, waktu,
dan peristiwa itu memang benar adanya.
Cimahi-Kuningan, 01 November 2010
Namaku Ogi Rogisno. Aku di lahirkan di sebuah wilayah terpeta yang udaranya sangat sejuk. Pepohonan yang masih menghijau, rindang dan menawan. Membuat hidupku lebih bahagia setiap saat ; Setiap helaan nafas. Di tambah lagi dengan kicauan burung-burung cantik yang sesekali hinggap di pepohonan. Huffhh ... rasanya membuat hatiku lebih tenang. Lebih riang. Dan lebih dari yang lebih lainnya. Tapi, hari ini hidupku tidak lagi bahagia. Sudah satu tahun lamanya Ayahku terbaring sakit di atas tempat tidur ; Melemas tak berdaya. Padahal berbagai tempat alternatif pengobatan sudah kami singgahi. Menurutui setiap anjurannya. Tapi Ayah tak kunjung sembuh. Tak kunjung tersenyum seperti dulu. Mungkin semua ini adalah Rencana-NYA.
Pagi itu tepat Hari Jum’at, 19 februari 2010 pukul 05.00 WIB. Aku terbangun dari tidur lelapku. Tanpa membuang waktu yang terus berjalan, aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat shubuku. Ketika itu, saat aku hendak melaksanakan shalat shubuh. Dengan suara rentanya yang terbaring lemas di atas tempat tidur, Ayah memanggilku.
“Nak, sini nak ! Tolong ambilkan segelas air putih untuk ayah. Ayah sangat haus !” Pinta ayah dengan nada suara yang begitu pelan. Ohh… ternyata Ayah haus dan memintaku mengambilkan segelas air putih untuk meredakan dahaganya. Gumamku dalam hati.
Satu menit berlalu. Aku menghampiri ayah dengan membawakan segelas air putih sesuai pintanya. Lalu bertanya.
"Yah, ini air putihnya. Harus Ogi simpan di mana?” Tanyaku dengan wajah polos.
“Simpan saja di atas meja nak !” Jawab ayah dengan nada suara seperti orang yang kesakitan.
Setelah air tersebut ku simpan di atas meja sesuai permintaan lembutnya. Aku segera melaksanakan shalat subuhku-Kepada-NYA. “Ya Allah, Yang Maha Pemberi Sakit dan Maha Pemberi Kesembuhan. Kini sakitmu mendera seseorang terkasihku. Maka Sembuhkanlah ia dari pemberian-MU yang tak diharapkan itu. Hamba sudah tidak kuasa melihatnya terbaring lemas di atas tempat tidur. Melemas tak berdaya. Dan, berikanlah hidayah-MU kepada seseorang terkasihku itu Tuhanku. Aku mohon”. Do’a yang sempat ku Panjatkan kepada Tuhan selesai melaksanakan shalat shubuh demi kesembuhan ayahku tersayang.
Beberapa saat kemudian. Cahaya sang surya mulai terpancar dari ufuk timur. Sedikit demi sedikit suasana pagi mulai tercipta. Aku segera membereskan tempat tidurku semalam. Saat khusunya aku membereskan tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara ibu memanggilku.
“Gi, sini nak ! Tolong suapi ayahmu dengan bubur ini, soalnya dia kan belum sarapan. Ibu mau nyuci baju dulu. Udah numpuk”. Pinta ibu dengan memberikan semangkuk bubur kepadaku.
“Baik bu!” Jawabku sambil tersenyum dan berlalu.
Ketika aku tengah menyuapinya dengan sebuah kasih sayang. Tiba-tiba tetesan air mata menitik dari mata indahku ini. Aku terkesima melihat kondisi ayah yang terbaring lemas dan setiap hari berada di atas tempat tidur. Ayah bertanya.
“Anakku, kenapa kamu menangis? Apa yang sudah terjadi padamu nak? Bilang sama Ayah”. Tanya ayah dengan nada suara sedih dan penuh kekhawatiran.
Seketika aku langsung terdiam dari tangisanku dan menghapus air mataku tanpa menjawab pertanyaan Ayah. Ayah yang sedari tadi mengkhawatirkanku. Ayah memang begitu. Tetap memerdulikan orang lain walau beliaulah yang sebenarnya pantas untuk diperdulikan. Duhh Ayah.
“Sudahlah nak, Jangan kamu menangis lagi. Usap air matamu itu. Ayah tahu kamu sudah tidak kuasa lagi melihat kondisi ayah yang seperti ini. Tapi kan semuanya sudah di gariskan oleh Tuhan nak. Ayah yakin di balik semua ini Tuhan merencanakan sesuatu yang begitu indah untuk kita. Yang penting kamu jangan lupa shalat dan berdo’a kepada-NYA demi kesembuhan Ayah ya”. Imbuhnya sambil mengelus-ngelus kepalaku.
Singkat cerita. Hari mulai siang dan matahari berada tepat di atas kepala. Cuaca yang begitu panas di sertai hembusan angin sepoi-sepoi membawaku terbang melayang ke dunia khayal. Rasanya ingin sekali memutar keadaan ini. Tapi, seperti yang ayah katakan. Bahwa semuanya sudah di gariskan oleh Tuhan. Kita sebagai makhluk ciptaan-NYA tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha dan berdo’a. DIA-lah yang mementukan. Ketika aku tengah duduk di atas sebuah kursi yang terbuat dari kayu sambil berkhayal. Tiba-tiba ”Allahuakbar Allahuakbar” Suara-suara penyeru telah di kumandangkan. Pertanda telah masuk waktunya shalat dzuhur. Aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dzuhur. Di atas sebuah sajadah nan bersih. Aku bersujud. Berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. meminta ampunan dan kesembuhan untuk ayahku. Hal seperti itu selalu aku lakukan setelah melaksanakan shalat. Dan semuanya aku lakukan dengan hati yang ikhlas serta penuh penyerahan diri kepada Sang Maha Pemberi Kesembuhan. Demi kesembuhan ayahku tersayang. Kini, yang bisa aku lakukan hanyalah berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Beberapa jam kemudian Ayah memanggilku.
“Gi, sini nak !” Panggil Ayah dengan nada suara seperti orang yang kesakitan.
Aku segera menghampirinya dan berkata. “Iya Ayah, ada apa memanggilku?” Ucapku disertai pertanyaan.
Dalam hati aku berkata ”Kenapa tatapan mata ayah berbeda? Tatapan matanya seperti orang yang ketakutan. Tuhan sebenarnya apa yang terjadi pada ayahku?”.
Ditengah sunyinya suasana. Ayah angkat bicara. “Duduklah, Ayah mau bicara” Pinta Ayah kepadaku agar segera duduk.
Aku pun segera duduk dengan hati yang penuh pertanyaan."
“Mau bicara apa yah? Sepertinya sangat penting untuk di bicarakan !” Tanyaku dengan wajah kebingungan.
“Begini nak. Jika nanti Ayah tidak ada lagi disampingmu. Ayah berpesan kepadamu. Jangan lupa shalat dan berdo’a kepada Tuhan. Buatlah Ayah tersenyum bangga atas perilaku baikmu. Jangan menjadi orang yang malas dan nakal. Bantulah ibumu jika kamu ada waktu untuk membantunya. Jadilah anak yang sholeh dan ramah kepada semua orang. Do’akan ayah selalu jika nanti ucapan Ayah ini nyata. Raihlah Cita citamu dengan kesungguhan ya Nak. Jangan tergiur oleh rayuan duniawi yang fana. Yang tak bermanfaat untukmu diakhirat kelak. Itu pesan Ayah untuk kamu nak. Tolong ingat baik-baik ya nak ! Jalani dengan senyuman”.
Seketika, pembicaraan Ayah terhenti melihat derasnya air mataku yang menitik. Aku bertanya.
“Kenapa ayah bicara seperti itu? Kenapa Ayah membicarakan yang tidak seharusnya di bicarakan dan tidak diketahui nanti jadinya oleh manusia? Kenapa?” Tanyaku dengan tangisan yang mendalam.
“Itu kan hanya jika, belum tentu benar atau tidaknya, nak !” Jawab ayah dengan nada suara pelan.
“Tapi, Ogi tidak menginginkan hal itu terjadi sama sekali yah ! Sangat tidak menginginkannya”. Sambungku dengan tangisan yang tersedu-sedu.
“Iya nak Ayah tahu. Ayah sangat tahu perasaanmu. Ayah juga tidak menginginkan hal itu terjadi nak. Tapi, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak terkecuali dengan ayahmu ini nak ! Kamu yang sabar saja menghadapi semua ini ya ! Ayah bangga terhadapmu”. Imbuhnya sambil mengelus-ngelus kepalaku.
Dan sesaat suasana menjadi haru. Dentingan jam dinding seperti melengkapi. Menciptakan alunan alunan lagu kesedihan.
Singkat cerita. Matahari pun mulai berpindah ke ufuk barat. Haripun mulai petang. Setelah selesai melaksanakan shalat isa. Aku mendapatkan kakak perempuanku yang tengah duduk di sebuah kursi dengan rasa gelisah. Aku bertanya.
“Kakak kenapa? Sepertinya kakak tengah gelisah, apa yang sudah terjadi dengan kakak?” Tanyaku sambil menghampirinya dan duduk bersebelahan degannya.
“Nggak kok adikku sayang. Kakakmu ini lagi gak enak badan aja !” Jawabnya sekenanya dengan wajah yang kusut.
Sunyinya malam membuatku yang tengah duduk di sebuah kursi menjadi terdiam,termenung memikirkan perkataan ayah tadi siang. Tiba-tiba terdengar suara Ayah yang memanggil Ibu.
“Bu ... bu ... !” Pnggil Ayah dengan nada suara pelan.
“Iya Ayah, ada apa?” Jawab ibu sambil menghampirinya.
“Ayah haus bu. Sepertinya Ayah ingin sekali minum teh dengan perasa yang manis” Jawab ayah di sertai permintaannya.
“Iya Ayah, Ibu buatkan dulu apa yang Ayah minta ya, Tunggu sebentar !” Sambung ibu yang kemudian segera bergegas ke dapur.
Selang beberapa saat. Ibu kembali menghampiri Ayah dengan membawa segelas teh dengan perasa yang manis sesuai permintaan Ayah. Dan berucap.
“Ini Ayah teh manisnya. Ibu suapin ya !” Tawar ibu dengan penuh kelembutan.
“Iya bu !” Tutur ayah sambil tersenyum.
Setelah selesai memberi Ayah minum. Ibu kembali ke dapur dan beres-beres.
Malam itu, tepat pukul 22.00 WIB. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Saat Ibu memasuki kamar tempat Ayah terbaring dengan ketidakberdayaannya. Ibu melihat Ayah yang tengah tertidur lelap dan berkata.
“Duhh ... Ayah ini tidurnya lelap sekali !” Ucap ibu sambil menghampirinya.
Tiba-tiba setelah Ibu perhatikan. Ternyata ayah sudah tidak lagi bernafas. Jantungnya berhenti berdetak, dan nadinya berhenti berdenyut. Dengan hati was-was dan ketakutan ibu memanggilku dan kakakku.
“Astagfirullah Aladzim. Ade ... Kakak ... ! Cepat kesini, Ayah kalian sudah tidak ada !” Tutur Ibu dengan suara terpontang-panting tidak jelas. Kesedihan menyelimuti ; Haru.
Aku dan kakak perempuanku yang tengah santai. Terkejut mendengarnya dan langsung menghampiri ibu. Aku bertanya.
“Kenapa bu, kenapa? Ada apa dengan Ayah bu? Ayah baik-baik saja kan?” Tanyaku diiringi tangisan.
Kakak perempuanku mencoba menenangkan aku dengan menjelaskan semuanya secara lembut kepada adiknya : Aku.
“Sudahlah de. Sudahh. Kesabaran kita tengah diuji oleh-NYA. Ayah kita sudah tidak ada. Tidak akan ada lagi disamping kita. Dia sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya de. Selamanya”. Jelas kakakku yang kemudian menempelkan pelukannya pada tubuhku.
“Apa? Ayah ... ” Teriakku yang kemudian membangunkan tetanggaku dari tidurnya.
“Ayah ... Kenapa Ayah tinggalkan aku di sini. Bersama kesedihan ini. Kenapa Ayah pergi secepat itu? Kenaoa Ayah? Apa ini rencana yang indah dari Tuhan untuk kita? Seperti yang Ayah katakan tadi Siang. Jika benar ini rencana-NYA. Kenapa rencana-NYA sesakit ini Ayah? Kenapa? Jawab pertanyaanku Ayah. Jangan diam membisu seperti itu". Sambungku dengan menggoyahkan jasad yang terbaring didepan mataku dan yang kemudian mengundang datangnya orang banyak ke rumahku.
Seiring berjalannya waktu. Semua sanak saudaraku telah ada di rumahku. Suasana malam yang hening dan haru. Membuat semua orang yang ada di rumahku meneteskan air mata. Air mata kesedihan : bela sungkawa. Kejadian silam itu memang masih melekat di benakku. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa,hanya terdiam dan meneteskan air mata tanpa merubah keadaan. Tuhan ... Kenapa kau berikan cobaan yang begitu berat bagi hamba-MU yang lemah dan tak berdaya ini.
Singkat cerita. Sepeninggalnya Ayah. Rumah menjadi sepi. Di tambah lagi ibu sering merenung sendiri. Tapi, aku dan kakakku selalu mencoba untuk menghiburnya. Duhh Ayah ... Andaikan Ayah masih hidup ya. Pasti hari-hariku tak kan bangkai seperti ini. Oh iya ... Ayah masih ingat tidak saat aku membuat Ayah bangga dengan peringkat satuku. Dengan juara tiga lomba puisiku. Dan dengan apa-apa yang Ayah inginkan. Ayah masih ingat kan. Tapi ayang ya, Ayah mengingat dengan jarak yang tak dekat. Tak dekat dengan Aku sebagai Anakmu. Ayah, Jika kau mendengar jeritan-jeritan hatiku yang memanggil namamu. Yang merindukanmu. Maka datanglah dalam mimpiku. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan memelukmu. Akhir cerita, Ketika waktu memisahkan kita. Kita tidak bisa lagi bersamanya. Ketika waktu memisahkan kita. Kita tidak bisa lagi melihat senyuman manisnya. Ketika waktu memisahkan kita. Waktu merubah segalanya. Dan kini, Aku hanya bisa berkata “AKU RINDU AYAHKU”.
---Selesai---
Terima kasih kepada pembaca rupawan yang telah menyempatkan Waktu, Mata, Logika dan Perasaannya untuk membaca karyaku. Berpikir dan berkhayal keras dari setiap goresan-goresan penaku. Maka tunggu karyaku selanjutnya dan liarkanlah pikiranmu saat membacanya. Masih tahap belajar. Jadi maaf kalau kurang enak di baca. -OgiRogisno
Follow us my twitter : @OgiRogisno
Dikutip dari kisah nyata. Kisah hidup penulis cerita. Cerita ini awalnya sebagai Tugas Bahasa Indonesia saat saya menduduki kelas X3. Berhubung banyak request yang masuk, jadi saya terbitkan. Maaf jika Ceritanya tidak bagus. Saya masih belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.