AKU TAU, CINTA DI SOSIAL MEDIAMU, ITU BUKAN AKU -OGIROGISNO
Lagi, untuk cinta yang kembali mekar. Untuk dia yang
kembali datang. Entah aku yang kepedean, atau kamu yang memang juteknya
kebangetan. Menyatakan apa yang ada dihatiku sudah kulakukan, yang
ternyata berujung pada kamu yang tak memedulikan. Sendiri dulu, seperti
judul sebuah lagu, menjadi alasanmu.
Aku berani
menyatakan sama dengan aku harus berani menanggung resiko dari apa yang
dinyatakan. Ya! Aku siap. Aku siap dengan segala resikonya. Dengan
segala kenyataan yang akan terjadi, sekalipun itu tak sesuai dengan apa
yang kuingini. Namanya lelaki, ya mesti berani, apalagi masalah hati!
Setiap
malam; sebelum tidur. Ritualku adalah mendengarkan lantunan sebuah
lagu. Tentunya lagu pilihanku. Dari lantunan itu, sosokmu seperti
menyusup pelan-pelan dalam benakku, inci demi inci lalu menyeruak.
Seperti mencuri-curi agar aku dibuat jatuh hati. Aku menghayalkanmu,
terhipnotismu, dan kecanduanmu. Tak pelak, aku ingin sekali memilikimu.
Suatu
malam, langit berwarna hitam legam. Gemercik air hujan turun membuat
irama syahdu. Aku baru saja pulang kerja. Kulayangkan pesan singkat pada
sosokmu. Isinya pertanyaan, bolehkah aku membuat panggilan telepon
terhadapmu?, pesanku. Jawabmu boleh, mengandung tapi. Tapi mau apa,
jelasnya. Bertele-tele kemudian, aku langsung mencari namamu di buku
teleponku, ku ketik namamu, lalu kutekan tombol hijau isyarat sebuah
panggilan. Di ujung telepon, suara khas menunggu panggilan agar mendapat
jawaban, menjadi teman ditelingaku. "Tuttt ... layaknya suara kereta.
Lalu, sepersekian detik dari itu, suaranya berganti. Kini suara operator
selulerku. Dia ikut campur sekenanya dengan berbicara "Maaf, nomor yang
anda tuju sedang sibuk. Silakan coba beberapa saat lagi". Panggilanku
tak mendapat gubrisan darimu. Apa yang terjadi selanjutnya, menyambung
dengan paragraf pertama.
Kita berbeda keberadaan.
Kamu dikampung, aku sedang dikota. Menurut cinta zaman modern, hal
sejenis ini biasa disebut long distance relationship. Yaa, meski kita
tidak relationship. Siasatnya, aku hanya bisa bersua dan berucap
denganmu lewat benda ajaib yang sering orang bilang; telepone genggam.
Salah satunya aku yang menghubungimu dan tak digubris olehmu itu
misalnya. Salah lainnya aku dan kamu yang mengetahuinya, Tuhan pun.
Ya!
Dulu, 4 tahun silam itu, masa pacaran kita itu, jelas memang indah.
Sekarang, apa sih istilah yang mengandung keburukan dan lawannya dari
kata indah? Mungkin istilah tersebut yang nantinya dapat mewakili.
Kini,
kita berada di 4 tahun kemudian dari saat masa pacaran kita, dulu.
Beberapa minggu yang lalu, kamu menyapaku disalah satu sosial media.
Menanyakan kabar dan lain sebagainya. Dari situ, cintaku kembali mekar.
Dari situ, cintaku yang dulu kembali datang.
Stalking.
Mungkin istilah itulah yang tepat dengan tindakanku yang mencoba
menyelinap melihat-lihat dinding sosial mediamu. Statusmu, cinta dan
sayang pada seseorang. Entah siapa yang kamu maksud aku biasa saja.
Kemarin, aku dan kamu membahas peristiwa dibagian ini. Membahas apa yang
sosial mediamu tanyakan terhadap apa yang kamu pikirkan. Ya, memang!
Apa yang kamu katakan bahwa apa-apa yang di sosial media itu kadang
tidak sesuai realita, ada benarnya. Aku juga pernah berspekulasi seperti
itu. Tapi aku tau, cinta di sosial mediamu, itu bukan aku. Semoga,
Tuhan tau apa yang kamu mau, agar cinta yang kamu nanti-nanti sesuai
dengan apa yang kamu ingini. Aamiin. Jaga dirimu baik-baik, selama
tanpaku.
Bekasi, 31 Desember 2013
Ditulis oleh Ogi Rogisno
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke Facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.