Ogi Rogisno: MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Satu -OGIROGISNO

MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Satu -OGIROGISNO

Ditulis oleh : Ogi Rogisno
Apa yang saya tulis, bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami.

Aku menatapnya dalam diam. Hanya tatapan penuh arti ini yang sejak awal mampu mewakili perasaanku pada sosok rupawan di ujung sana. Dia memakai pakaian berwarna biru. Seolah mengetahui warna kesukaanku, setelah merah. Hidungnya, matanya, wajahnya, semua terkesan sempurna jika kukait-kaitkan dengan rasaku-padanya. Si culun penerjemah perasaan ini, hanya bisa menatapnya dalam jarak sepersekian meter. Dalam diam, dalam harap, dalam rasa yang tak akan melebur nyata.

Ini adalah hari ke-73 aku bekerja di sebelah kantor kerjanya. Sudah mulai jarang aku memandanginya dari jarak seperti sekarang ini. Kangen juga. Pun aku belum mengetahui siapa nama dia sebenarnya. Konyol bukan? Aku; mengaguminya diam-diam. Kita hanya sering saling melempar pandangan. Membuat khayalan terbang diudara lalu tersapu angin. Mengkhayalkan yang indah-indah tanpa kepahitan secuil pun. Tanpa luka segores pun. Seperti sekarang, aku; mengkhayal.

"Jadi gimana kalau hujan terus-terusan seperti ini? Apa pujangga sepertimu akan tetap berpuisi?" Celoteh pria berkulit hitam disebelahku.
"... (Aku diam tak menjawab)
"Hey! (Dia menyenggolku) kamu ini diajak bicara diam saja. Sedang mengkhayalkan apa lagi?"
"Aku mendengarkan perkataanmu kok, Mas. Aku menjawabnya lewat khayalan ini. Masih tetap, ini, aku sedang membuat puisi lewat khayalanku"
"Aduh ... Le le, pie toh. Apa judul puisimu kali ini, Le?"

Katanya, di Jawa, 'Tole' itu panggilan sayang untuk anak laki-laki. Yang lebih sering disingkat dengan diambil dua huruf dibelakangnya, saja. Dan 'Nduk' adalah panggilan sayang untuk anak perempuan.

"Mengagumi diam-diam, Mas."
"Wahh mengagumi siapa nih? Jarang cacarita ayeuna mah euy"
"Apa setiap kisahku berarti harus kuceritakan padamu, Mas?" Sergahku.
"Ya tidak juga sih. Tapi, aku harap kamu mau ceritakan kisahmu dibagian mengagumi diam-diam itu. Sepertinya menarik."
"Tapi, aku harap, Mas tidak berharap aku menceritakan kisah penuh harapan ini."
"Yowis, kulo meneng wae. (Yaudah, aku diam saja)."

Mas Firman, begitu aku memanggilnya. Pria kelahiran Jakarta ini memang sering mengurusi urusan orang lain. Ayahnya Betawi asli, Ibunya Kebumen matang. Wajar saja jika dia juga paseh dalam bahasa jawa. Anehnya, dia bisa berbahasa sunda, juga. Yang ini belum aku temui sebab dari mana dia bisa begitu.

Aku mengalihkan pandangan dari Mas Firman. Dia tidak lagi bicara. Aku memandang pada tempat dimana sosok yang kukagumi tadi bersimpuh. Dia hilang. Tak lagi ditempatnya. Aku kecurian, tanpa sadar. Aku melempar kesal pada Mas Firman. Aku menggerutu.

"Tuhkan, Mas!"
"Kenapa?"
"Gara-gara Mas puisiku jadi hilang. Ah benci"
"Loh kok kulo? (Loh kok aku?)." Dia bingung.

Aku berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.

Copyright © Ogi Rogisno Urang-kurai