Ogi Rogisno: SEKARANG DAN SELAMANYA - OGI ROGISNO

SEKARANG DAN SELAMANYA - OGI ROGISNO

Kisah persahabatanku ini berawal dari tahun 2008. Tepatnya saat aku menginjak bangku sekolah menengah pertama. Anehnya, disekolah itu aku terpilih menjadi salah satu anggota OSIS. Aku juga tidak pernah memahami, kenapa manusia bodoh sepertiku bisa terpilih menjadi anggota OSIS. Kamu tak perlu mencari jawabannya. Karena jawaban yang bisa dipertanggung jawabkan dengan hal tersebut hanya ada satu. “KEBETULAN”. Yaahh … begitulah nasib manusia bodoh sepertiku.

Singkat cerita (biar gak jadi cerpan). Saat sekolahku akan mengadakan pendaftaran siswa/siswi baru (aku udah jadi kakak kelas).  Seketika itu semuanya mendadak sibuk. Dari mulai kepala sekolah yang sibuk nanyain jumlah siswa/siswi baru ke manusia TU (dibaca : te’u), Pembina OSIS yang sibuk mikirin konsep buat acara tersebut, Panitia MOS (OSIS) yang sibuk ngadain rapat sebelum acara berlangsung, sampe-sampe ibu kantin sekolah yang notabene’nya gak ada sangkut pautnya sama sekali dengan acara ini juga ikutan sibuk gitu. Sibuk ngantinin bapak kantin gitu. HaHaHa (perhatian : hanya untuk manusia yang cukup umur. “Bayi”).

Matahari telah terbit, tetesan embun pagi mulai berjatuhan. Disamping itu, hari dimana semua elemen-elemen manusia yang menjadi panitia MOS akan bekerja. Sekitar pukul 06.00 WIB pagi, aku terbangun dari tidurku. Setelah mandi dan siap-siap, ku segerakan untuk berangkat ke sekolah. Matahari mulai naik, suasana disekolah mulai tercipta. Lalu ku persingkat cerita ini dari yang sebenarnya, sepulang sekolah adik kelasku mendapatkanku yang tengah duduk tertegun ditritisan sekolah dan memanggilku dengan suara lantang. Sontak aku pun terkaget dengan panggilan yang lantang itu. Seolah jantungku melayang. Terbang ke angkasa bersama paus akrobatis menuju rasi bintang paling manis (kaya iklan kopi good day). Mereka (lebih dari satu) wanita-wanita cantik yang memanggilku itu, mengajakku untuk pulang bersama mereka. Yang ku ingat, aku tidak menolak dari tawaran yang di berikan. Persingkat kembali, kami pun pulang bersama. Hari demi hari terlewati, dan semua hari itu terhiasi dengan aku yang selalu bersama mereka. Baik saat berangkat maupun pulang sekolah.

Tepat bulan ketiga dari bulan juli, kami berkumpul disebuah rumah beratap. Kurundingkan dengan mereka sebuah nama sebagai symbol persahabatan kami. Sebenarnya persahabatan sejati itu tidak dilihat dari bagus atau tidaknya sebuah nama yang dijadikan sebagai symbol persahabatan tersebut. Apalah arti sebuah nama jika kenyataanya tidak sebagus dengan arti nama tersebut. Perdebatan sempat terjadi saat penentuan nama. Namun, akhirnya kami sepakat dengan sebuah nama yang simple, unik, dan segalanya. Menurut kami nama yang disepakati itu merupakan nama terindah dari nama-nama yang indah. Kesepakatan yang kami lakukan tidak hanya pada nama yang akan menjadikan kelompok kami mempunyai ciri tersendiri itu. Terlebih kami juga melakukan kesepakatan untuk menciptakan persahabatan ini seindah nama yang terpilih. Kami menamakan persahabatan ini dengan sebutan “GERESIS’. Dengan nama yang mengandung arti kesetiakawanan dalam persahabatan ini, kami jadikan  modal demi sebuah persahabatan. Kamu yang membaca ceritaku ini dan belum tau kepanjangan dari “GERESIS’, tak perlu ingin tau saja menurutku. Karna aku tak ingin memberitahukan semua hal yang menyangkut dengan persahabatanku ini kepada orang lain. Kecuali kepada orang yang bersangkutan.

Saat bulan tidak bersinar, bintang-bintang menghiasinya . Saat salah satu dari kami tidak merasa senang, teman-teman menghiburnya. Ketika masalah menghampiri kami,  kami mencoba untuk bangkit dan bersatu. Jika diibaratkan dengan hal itu, kami bagaikan pecahan kaca yang disatukan dengan perekat. Bersatu dan menyatu. Disamping itu saat aku menulis ceritaku ini pada suatu malam yang sepi. Kantukku datang dan semakin menjadi seiring dengan larutnya malam. Aku larut dalam kebimbangan. Kebimbangan akan masa laluku bersama kalian. Tak pernah terpikirkan kalau aku akan mendapatkan sahabat sejati seperti kalian. Kalian bagaikan matahari, yang selalu menyinari setiap hari-hariku. Kalian juga bagaikan pelangi, yang selalu mewarnai setiap hari-hariku. Kalian adalah segalanya bagiku. Satu hal yang perlu kalian ketahui, Aku tak akan pernah mempedulikan manusia-manusia itu berkata tentang persahabatanku dengan kalian. Karena yang terpedulikan bagiku itu hanya ada  satu : Saat aku bersama kalian “sekarang dan selamanya” (InsyaAllah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.

Copyright © Ogi Rogisno Urang-kurai