Ogi Rogisno: SEBUAH INISIAL-CERITA BERPOTONG-POTONG -OGI ROGISNO

SEBUAH INISIAL-CERITA BERPOTONG-POTONG -OGI ROGISNO


Di pagi yang cerah ini, aku melihat mentari yang tersenyum kepadaku. Seolah ingin menemaniku di pagi hari. Lalu ku balas senyuman itu dengan senyuman termanisku. Ku bawa ragaku melayang dalam angan, dan ku biarkan otakku berpikir secara keras. Cerita pagi ni berawal dari sebuah pesan singkat (SMS).

Saat 'A' berkata kepadaku “Berat hidup ini tanpamu” tiba-tiba mentari bersinar semakin terang. Awan tersenyum dan menari-nari diangkasa. Seolah memberikan isyarat kepadaku kalau dia memang sangat membutuhkanku.

Sejatinya setiap pertemuan itu sering kali disertai dengan sebuah perpisahan. Beberapa bulan lalu, saat aku berpisah dengan 'Y' setelah pertemuan manis itu. Dia berkata kepadaku kalau “Ini bukan akhir dari segala-galanya. Karena sebenarnya kita masih bisa bertemu kembali”. Pagiku menjadi paginya. Dan bahagiaku juga bahagianya. Aku dan dia tidak pernah tahu kapan kita akan dipertemukan kembali. Tapi yang jelas, aku percaya kalau rencana TUHAN itu selalu Indah.

Kegemaranku berkelana ke berbagai daerah pernah membuat 'F' memarahiku. Terlebih lagi saat itu aku belum makan siang. Dia pernah berkata kepadaku kalau “Kita itu tidak akan selamanya hidup dengan orang yang kita sayang”. Ada kalanya saat kita harus merelakan orang yang kita sayang pergi meninggalkan kita.

Kalian (Yang ku maksud) memanglah kakakku yang terbaik. Pemahaman kalian dalam menghadapi sifat anehku membuat hati ini bahagia. Perhatian yang kalian beri pun telah membuatku nyaman. Sebaik-baiknya sebuah kebaikan, tidak ada yang lebih baik dari kebaikan kalian (menurutku). Mentari semakin naik dan awan semakin menipis. Akupun semakin asik dan asikku saat menulis. Kalian bagaikan oksigen, yang mampu memberikanku nafas setiap hari. Kalian juga bagaikan sinar ultraviolet, yang mampu mematikan sifat anehku secara bertahap namun sukses. Pagi semakin siang. Siang semaikn terik. Dan teriknya siang membuat sore hari menyapaku diakhir cerita ini. Dengan sinar mentari yang semakin tenggelam, cerita ini berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.

Copyright © Ogi Rogisno Urang-kurai