MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Dua -OGIROGISNO
Ditulis oleh : Ogi Rogisno
Apa yang saya tulis, bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami.
Bruk. Aku melempar bokongku diatas kursi kantor di ruang Generator Set (baca; Genset). Dia berwarna kuning, warna yang tidak kusukai tapi tetap kududuki. Sepertinya tidak harus jadi persoalan serius juga sih tentang warna kursi dengan warna yang tidak kusukai. Terlalu diberi-beri selera hati. Padahal kaki sudah lelah lama berdiri. Aku melempar lelah dan kesal di sana. Diatas si kuning yang berbahan busa. Tiba-tiba, dari sudut ruangan yang gelap dan tertutupi Generator Set yang ukurannya tidak kecil itu, ada suara manusia yang menyapaku.
"Kamu ini kenapa toh? Duduk dengan adegan seperti kesal. Ada masalah? Ceritakan lah."
"Ah, Mas Ridwan saja yang terlalu mendramatisir keadaan. Aku duduk dengan adegan biasa kok. Bokong dibawah kepala diatas." Cerocosku pada lekaki berumur sekitar 28 Tahunan itu.
"Lah iku sih wis lumrah, Le. (Lah, itu sih udah biasa, Le)."
"Kalau memang sudah biasa, kenapa mesti dianggap tidak biasa? Dengan bicara katanya dudukku seperti adegan kesal!" Ucapku membela.
"Haha iyo sih, yowis kulo meneng wae. (Yaudah, aku diam saja)."
"Loh? Katanya suruh aku cerita, tapi kok aku didiamkan?."
"Oh mau cerita juga? Silakan lah"
"Jadi, aku harus memulai ceritaku dari mana?."
"Dari kejadian yang kamu sebut awal ceritanya saja." Ucap Mas Ridwan memberi usulan.
Aku mulai membenarkan cara dudukku. Mendekatkan sepersekian meter kursi yang kududuki pada lelaki asal Banyuwangi itu.
"Boleh tidak sih kita mengagumi seseorang, Mas?." Ucapku memulai percakapan. Menatapnya dengan yakin.
"Mengagumi yang bagaimana, Le?"
"Yang dengan terlalu."
"Jangan, Le! Nanti kamu bisa lupa berharganya dirimu sendiri. Kamu hanya membanggakan dan menomorsatukannya padahal kamu sendiri lebih layak untuk dibegitukan."
"Tapi, apa memang harus disebut salah jika kita menomorsatukan seseorang dalam hidup kita?." Balasku dengan mata terbelangak.
Mas Ridwan menarik nafas pelan. Seolah ada pengalaman sekaligus beban dibalik percakapanku dengannya.
"Dulu, aku juga pernah sepertimu. Aku tidak berniat menggurui atau sok benar di sini. Aku hanya bicara sesuai dengan apa yang pernah aku alami, Le." Lanjutnya memaparkan sesuai apa yang telah kuterka dari tarikan nafasnya.
"Dulu? Mas, pernah menomorsatukan seseorang juga; sepertiku?." Tanyaku penasaran.
"Ya, Le. Dan aku malah dinomorsekiankan olehnya. Aku dikecewakannya sedang aku membanggakannya."
"Aku tak mau menceritakan masa laluku lagi, Le. Cukup ambil hikmahnya, saja. Tapi, kalau kamu mau ceritakan awal mula kamu mengagumi dia, aku siap menjadi pendengar baikmu." Sergahnya karena khawatir aku memintanya agar dia menceritakan masa lalunya.
"Tenang, Mas. Aku juga tidak akan memaksa Mas untuk menceritakan masa lalu Mas, itu. Aku menghargai privasi orang lain. Jadi, Mas siap mendengarkan cerita penuh harapanku ini?."
"Iyo, Le. Kulo siap."
Beberapa menit, suasana hening. Aku angkat bicara setelah menarik napas dengan yakin.
"Begini, Mas. Mas pasti tau. November tahun lalu, aku mulai bekerja ditempat ini. Mulanya ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.