Pages

Minggu, 23 Februari 2014

MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Tiga -OGIROGISNO

Ditulis oleh : Ogi Rogisno
Apa yang saya tulis, bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami.

... Mulanya, tiga bulan lamanya, sebelum bulan November tahun kemarin, aku menganggur dilapisi kebosanan. Ya, tak heran, lulusan SMA di zaman yang semakin maju ini, mau kerja apa? Pikirku. Bisa dikatakan, aku masuk kerja di sini karena orang dalam. Dia DBM Supporting di kantor Bank ini dan Mas pasti tau. Aku mengenalnya dari teman nongkrong kakakku. Waktu itu, pelamar bagian Cleaning Service ada 5 orang banyaknya. Tanpa melewati seleksi atau metode lain yang biasa dilakukan perusahaan untuk memilih siapa yang cocok kerja di perusahaannya, aku langsung diterima dan menyingkirkan 4 orang kandidat lainnya. Hari pertama kerja, aku merasa ada sosok spesial di sebelah kantor kita. Kantor yang menerima pengiriman titipan kilat. Jujur, saat aku melihat sosoknya, aku memandanginya tanpa berkedip. Aku rasa, pertama aku kerja di sini, pertama aku memandanginya, pertama juga aku mengaguminya. Ya. Aku tau, Mas. Hal ini lumrah pastinya. Pandangan pertama memang selalu membuat terpana. Susah lupa. Barang jadi bisa timbul rasa tak biasa." Ucapku memaparkan semua yang tersimpan di hati.

Sengaja, aku menghentikan ceritaku. Mencoba membenarkan tempat dudukku yang sepertinya mulai tak nyaman. Mencoba mengetahui feedback (umpan balik) dari komunikan (penerima) pesan. Kupandangi pria di depanku. Dia tersenyum mendengarkan ceritaku.

"Baru mau Mas tanyakan bagaimana kamu bisa bekerja di sini, Le. Eh sudah diceritakan duluan." Feedback sekenanya.
"Ya, Mas. Karena, aku pikir, akibat aku bekerja di sini, sebab itulah aku mengaguminya. Menurut pelajaran Indonesia ketika aku SMA kemarin, ini dinamakan paragraf dengan pola sebab-akibat, Mas. Enggak bakal ada akibat kalau gak ada sebab. Enggak bakal ada asap kalau gak ada api. Enggak bakal ada hasil kalau gak ada usaha." Opiniku sok tau.
"Mas suka gaya bicaramu, Le. Terus kelanjutannya bagaimana?"

Aku tersenyum.

"Lalu, setiap harinya, setelah pandangan itu, aku selalu berjaga diluar kantor. Selain memang karena sudah menjadi tugasku, aku menyelipkan maksud lain pada tuntutanku. Ya, hanya sekadar ingin memandangnya, Mas." Pintasku.
"Mas yakin, ceritamu belum selesai, Le. Tapi mas bingung. Mas ingin tau, siapa sosok yang membuatmu terpukau itu? Katamu, disebelah kantor kita. Siapa dia, Le?" Tanyanya seperti menyudutkan.

Mataku bulat. Melotot, menatapnya.

"Bukannya pendengar yang baik itu menerima dengan baik setiap rentetan cerita tanpa memaksa tau unsur lainnya? Bukannya pendengar yang baik itu tokoh yang Mas pilih saat aku mau memulai ceitaku? Seadanya aja bisa, kan? Bukan kritikus, kan? Kenapa jadi melenceng?!
Aku gak mau ya, siapa tokoh diceritaku diketahui semua orang. Sekadar tau rentetan ceritanya sih aku lapang dada, Mas. Aku enggak mau, sosok yang istimewa dihati, diumbar seperti tanpa harga diri, meski cuma nama yang diketahui. Eng-gak ma-u!"
"Sabar toh, Le. Maaf. Aku lancang. Aku gak maksa, Le."
"Dimaafkan." Ketusku.

Dia diam dan menarik nafas panjang. Pria berumur 28 tahunan itu seperti berkata dalam hati 'Aduh! Anak muda, cepat emosi dan ego tinggi. Hati-hati.'

"Kamu mau lanjutkan ceritanya?" Lirihnya. Mencoba memecahkan kesunyian yang beberapa menit menysup lewat celah-celah saling diamnya aku dan Mas Ridwan.
"Tentu, kalau Mas tetap konsisten pada tokoh 'pendengar yang baik'."
"Oke. Lanjutkan, Le."

'Maafkan aku Mas Ridwan. Aku terbawa suasana'. Ucapku pada diriku sendiri.
Aku mulai angkat bicara, melanjutkan ceritaku.

"Lanjut dari itu. Aku ...


-NB
MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Satu :
https://www.facebook.com/notes/ogi-rogisno/mengagumi-diam-diam-bagian-satu-ogirogisno/649971885063162

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.