Pages

Selasa, 11 Maret 2014

MENGAGUMI DIAM-DIAM Bagian Empat -OGIROGISNO

Ditulis oleh : Ogi Rogisno
Apa yang saya tulis, bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami.

... Lanjut dari itu, Aku selesai bercerita, Mas." Ucapku singkat."Loh? Kamu ini gimana toh, Le? Kalau emang selesai, tadi gausah dilanjutkan aja!" Protes Mas Ridwan.
"Ada awalan ada akhiran, Mas. Bukankah beberapa menit yang lalu aku mengawali ceritaku dengan baik? Lalu apa salahnya jika aku mengakhiri ceritaku dengan baik, juga? Bukankah ini ceritaku? Bukankah Mas pendengar yang baik?" Asumsiku membela.

Mas Ridwan tersenyum. Tapi aku tak paham artinya itu. Ada dua kemungkinan dibalik tarikan indah bibirnya. Pertama, mungkin dia kagum pada asumsiku. Kedua, mungkin dia berkata lagi dalam hatinya 'Anak muda ego tinggi' dengan ditopengi senyuman yang menurutku aneh. Ah entah bagaimana.

Sunyi dan sepi datang tak diundang. Menyelinap diam-diam tanpa salam. Aku dan Mas Ridwan terbawa suasana. Hingga kami akhirnya saling diam tanpa ungkapan. Mas Ridwan menyulut rokoknya. Entah untuk yang keberapa kali.

Krekek. Pintu ruangan Generator Set (baca; Genset), terbuka. Ada yang membukanya saat setelah aku selesai bercerita. Setelah Mas Ridwan menyembulkan asap rokok dari hisapannya yang ketiga kali. Siluet manusia yang membuka pintu itu tergambar jelas. Hitam, tak bisa kutebak siapa dia. Aku yang sedari pintu itu terbuka, menatap tajam dari tempat dudukku. Mas Ridwan terus-terusan bertanya padaku siapa dia. Dengan kekhawatirannya, dia segera menghabiskan batang rokoknya yang masih sedikit panjang. 'Dilarang Merokok' memang terpampang jelas di daun pintu ruangan ini.

Dia mulai masuk. Melangkahkan kakinya menuju kami; aku dan Mas Ridwan. Wajah itu mulai kukenal, tak asing lagi dalam urat saraf otakku. Dia, pria yang susah ditebak.

"Mas Ridwan, aku boleh minta tolong gak? Beliin aku rokok ke minimarket."
"Oh, bisa Mas bisa. Sini uangnya."
"Nih Mas. Rokoknya SM sebungkus ya. Sisanya, kamu mau apa? Biar sekalian." Paparnya disertai pertanyaan padaku. Bukan pada Mas Ridwan!
"Hah?! Oh Aku. Aaku Lemonia aja, Mas."
"Oke, Lemonianya satu ya Mas. Mas mau beli apa terserah."
"Njih, Mas." Mas Ridwan mengangguk paham.

Tak heran. Pria di depanku ini memang baik. Jika menyuruh OB atau Cleaning Service seperti kami; Mas Ridwan, Mas Fiman, atau Aku. Selalu bertanya kita mau apa. 'Biar sekalian' katanya.

Mas Ridwan beranjak dari tempat duduknya. Dia berangkat membeli apa yang tadi kami obrolkan. Kini, hanya ada aku dan Mas Fandi yang susah ditebak itu. Di ruangan Generator Set itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.