Pages

Selasa, 17 September 2013

MAAF, AKU MENGAGUMIMU Eps. 2 -OGIROGISNO



Perhatian :
Apa yang saya tulis, adalah bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami. Ketahuilah, bahwa cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya. Selamat membaca.

Sudah hampir dua pekan aku berusaha tak bertemu dengannya. Tak kuketahui tentang hari-harinya.Tak kudapati juga kabar darinya. Dia; kekagumanku. Kata orang, rasa rindu akan hadir ketika lama tidak bertemu. Inikah rasa yang dia maksud?
                                                               
                                                           ***

Senja sewarna teh lemon kembali datang. Aku duduk diteras depan rumah, dengan catatan pribadiku. Memandangi matahari danbulan yang akan bergantian tugas. Memandangi sore dan malam yang akan berpapasan. Terlepas dari sebuah rasa yang seseorang asumsikan, aku selalu menikmati detik-detik seperti ini. Detik-detik dimana Jemari Tuhan mengatur warna pada atap kehidupan. Detik-detik dimana orange berubah menjadi hitam.

Seperti biasa. Pemandangan seperti itu menghempaskan ingatanku pada sosok yang selama ini selalu kuindahkan namanya. Yang selama ini selalu menjadi alasan jatuhnya kristalis cair dari mataku; dia kekagumanku. Di sana; disesuatu yang sewarna teh lemon itu, seperti banyak menyimpan kisah tentang sosoknya.

Oh iya aku lupa. Kautahu? Setiap apa yang tergurat secara nyata antara kau denganku, aku selalu mengadu pada senja dan catatan pribadiku ini. Entah itu saat kauabaikan perjuanganku. Saat kaumemasabodokan rasaku. Atau saat kautakpedulikan hadirku. Merekalah yang menjadi saksi bisu semua tentangku. Tentang kesakitanku-karenamu.

“Lantas kenapa kau mengagumi seseorang yang mengabaikan perjuanganmu? Yang memasabodokan rasamu? Atau yang…” Bisikan penyadar datang memekakan telingaku.

Aku; Entahlah, akupun takmengerti dengan rasaku sendiri.

“Tak mengerti? Bodoh! Kenapa kau tak mencoba membenci dan melupakan sosoknya? Agar kaulupa dengan rasamu sendiri”. Bisikan penyadar itu menyudutkanku.

Jadi ini semua salahku? Salahkah aku jika aku ingin menomorsatukannya dalam hidupku? Kenapa diam? Jawab! Mencoba melupakannya? Itu sudah! Hal sejenis itu sudah kulakukan. Iya,Sudah! Tapi,memaksa diri sendiri untuk membenci dan melupakan tentang sosok yang kita kagumi, itu hanya akan membohongi hatimu ketika sebenarnya kau tak bisa benci dan lupa-terhadapnya. Benarkan?

Perlahan, sesuatu yang sewarna teh lemon itu mulai pudar. Digantikan dengan warna hitam dan serta-merta bintang-bintangnya. Ritualisasi tersebutlah yang kemudian mengundang suara-suara penyeru Tuhan untuk dikumandangkan. Sedang aku masih khusyu memandangi permainan indah Jemari-Nya. Sedang aku masih khusyu mengingat-ingat semua tentang kesakitanku-karenamu. Apaguna? Tidak ada. Aku berlalu.

Setelah mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, aku kembali pada posisiku semula; duduk diteras dengan catatan pribadiku. Lalu, aku mendongak. Memandangi atap kehidupan malam hari dengan lebih eliti. Di sini, di teras ini. Terlihat dengan jelas binar-binar wajahmu yang terlukis oleh bintang-bintang. Memesona lewat hembusan angin malam. Aku; dibuat kagum oleh-Nya. Ingatanku; (kembali) dibuat terhempas pada sosok yang tak berperasa sepertinya.

Gemercik air hujan turun dari langit, dari atap kehidupan itu. Karenanya, binar-binar wajahmu yang terlukis oleh bintang-bintang; terhapus. Aku tak pedulikan itu. Aku kembali sibuk dengan catatan pribadiku. Mengingat kenangan dan menupahkannya pada tulisan. Teriakan hati yang mampu tertuliskan adalah kebahagiaanku, meski ketika mengingatnya itu sangat menyakitkan. Kasihan memang, tapi, menyenangkan. Aneh bukan?

Catatan pribadiku telah terisi banyak. Lebih dari setengahnya dan hampir mendekati sisa umurnya adalah tulisanku semua. Dan seluruhnya adalah tentang sosokmu. Sosok yang selama ini selalu kuindahkan namanya disetiap jeritan-jeritan hatiku. Kukira tidaklah berlebihan ketika aku mempersembahkan hidupku hanya untuknya. Nyatanya, perkiraanku adalah terkaan konyol.

Selalu kuindahkan namanya bukan berarti selalu memberi aliran kebahagiaan untukku. Ini seperti satu keping uang logam, yang kedua sisinya memiliki gambar berbeda, sebut saja yang bertentangan. Dia yang kukagumi, adalah dia yang selalu menyakiti. Dia yang kuindahkan namaya adalah dia yang selalu tak pedulikan hadirku dihidupnya. Lelah memang menjadi sepertiku, tapi kecintaan seseorang akan terus berlanjut jika rasa hatinya hanya menginginkan orang tersebut. Kecuali, Tuhan menurunkan hidayah penyadar kepadanya. Kepadaku misalnya.

Thanks for Reading. To Be Continue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.