Ogi Rogisno: INI - AKU; ANAK KOST -OGIROGISNO

INI - AKU; ANAK KOST -OGIROGISNO

Embun pagi menetes dengan irama yang merdu. Tetesannya menyejukan suasana pagi. Dengan waktu yang terus berjalan secara pasti. Pagi membawa embun untuk pergi dan meminta mentari untuk menghangatkan suasana. Siangpun membangunkanku.

Seperti  hari-hari biasanya. Ritualku  setelah bangun tidur adalah menyegarkan dan membersihkan anggota badanku. Dengan handuk biru kesayanganku. Ku langkahkan kaki ini menuju sebuah tempat pembersih badan disinggah sana. Lalu kurasakan setiap air yang menyentuh kulitku. Dan kubiarkan dia menikmati kenikmatan sentuhannya. (17 Tahun ke atas nih).
                                                                         ***
Setelahnya, bersamaan dengan apa yang seharusnya dibawa pada hari itu. Aku berjalan menuju gedung sekolahku. Lalu, senada dengan langkah yang kupijak. Kubawa rasa bahagiaku dalam hati. Dan kucoba lewati hari itu dengan senyuman dibibirku.

Sekelebat, secercah wajah teman-teman dan adik kelas yang menyapaku di gerbang hingga koridor sekolah, mensugestiku untuk menjawab setiap sapaan manis dari mereka. Bermodalkan rasa bahagia dan senyuman dibibir, kujawab setiap sapaan yang terlontar dengan kata selamat pagi juga. Pintasku sederhana.

Setibanya di ruang belajar, kubuka buku pelajaran pertamaku hari itu. Dengan seksama dan teliti, kubaca sedikit materi. Dimenit berikutnya, bel sekolah berbunyi lantang dan langsung disambut histeris oleh teriakan para siswa. Kecuali aku.

Berbagai coretan tinta peristiwa tertulis dengan sukses pada hari itu. Jika diamati pada salah satu sudut, peristiwa mood seorang pelajar itu akan berubah seiring dengan siangnya hari. Hasilnya rata-rata pelajaran terakhir membawa mood yang menyiksa; yaitu ngantuk. Begitulah sekiranya.

Beberapa menit kemudian, setelah pelajaran terakhirku hariitu kulewati dengan kantuk yang menyiksa. Aku dan teman-teman sekantukku dibuat bahagia oleh suara bel sekolah yang (kembali) berbunyi lantang. Pertanda pelajaran telah usai. Oh iya, kautau? Ternyata, detik-detik menuju pulang sekolah itu adalah kekaguman sesaat bagi mereka yang mengantuk.Ehh~
                                                                      ***
Lalu, dengan tas hitam yang kugendong manis.Aku pulang membawa setumpuk tugas-tugas baru. Dan itu membuat langkahku gontai tak tentu arah.

Fokus mataku dari kejauhan. Sebuah rumah beratap yang mempunyai halaman luas dengan warna catnya yang khas, telah terlihat. Itu adalah tempatku beristirahat. Tempatku menaruh pengalaman.

Anak kost, begitulah panggilan horor yang kudapatkan saat ini.  Sudah hampir tiga tahun, kisahku terukir dengan matang ditempat itu. Dan sejak saat itu, semuanya kukerjakan dengan sendiri. Hingga aku, terbilang menjadi salah satu anak yang mandiri.

Salam dan mencium tangan ibu bapak pembimbingku di sana, sudah menjadi salah satu dari beberapa ritual rutinku sepulang sekolah. Lalu,masih dengan gontaiku aku berjalan menuju sebuah kamar. Dan aku tertidur diatas benda nan empuk itu.

Terlelap diatasnya, berharap mampu menghapus rasa lelah yang menyelimuti diri. Ditemani kedua bantal dan guling yang kupeluk. Aku menjelajahi indahnya mimpi.

Sebelumnya, aku telah mengatur alarm pada telepon genggamku. Ku atur tepat pukul 16.00 WIB. Karena mungkin rasa lelahku tingkat presiden beserta jajaranya. Jadi berakibat kepada aku yang tak mendengar bunyi alarm dan baru terbangun pukul 16.30 WIB. Ceroboh!

Menit berikutnya, terdengar seseorang yang mengetuk pintu kamarku dengan tidak begitu pelan. Dengan sedikit langkah yang tergontai-gontai, kubuka pintu kamarku. Kubuka dia dari kunciannya.“Ohh ternyata bapak !” Ucapku lirih.
“Ini sudah sore. Cepat kau mandi! Jangan terlalu sibuk dengan bunga tidurmu”
“Iya Pak!” Balasku sekenanya.

Bunga tidur. Begitulah istilah lain mimpi yang sering digunakan sosok pria paruh baya itu. Menurutnya, bunga tidur hanyalah hiasan tidur semata. Yang tak perlu dinikmati tetapi dipahami. Paham akan bunga tidurmu, berarti kamu paham akan setiap detik yang kamu lewati ketika tidur. Ulasnya mendalam.
                                                                    ***Setelah mengerjakan apa yang diperintahkannya dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Aku bergegas menyiapkan sesajenku malam itu. Sesajen malam anak kost itu memang istimewa dengan terkadang. Terkadang? Iya benar-terkadang. Nahlo, malam ini? Hanya mie rebus dengan nasi suci yang belum begitu matang. Aduhh-.- Gapapa, hal seperti itu sudah menjadi kesengsaraan yang sangat biasa. Sepele. Woles bray -___- *Ehh

Bruk.  Kulemparkan beberapa buku dari meja belajarku-kelantai. Tentunya setelah selesai melewati kesengsaraan yang sudah biasa menurutku. Malam itu, aku berencana berkutat dengan buku pelajaranku yang tidak begitu banyak. Hanya sebagian tugas yang sekiranya dikumpulkan esok hari. Kekhusuanku berkutat dengan mereka,membuat kesadaranku lenyap. Ternyata, malam telah larut.

Malam itu, aku juga berencana tidur dengan tidak terlalu larut. Ketika malam menghadikan kesunyian. Aku segera merebahkan badanku diatas kasur yang kuanggap empuk itu. Lalu, kutarik selimut yang hampir tiga tahun terakhir ini menjadi penghangatku. Ku peluk guling yang hampir satu bulan terakhir ini menjadi ciri kejombloanku. *Ehh Aku, kembali terlelap dalam tidur malamku. Dalam penjelajahan indahnya mimpiku. Sederhana? Iya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.

Copyright © Ogi Rogisno Urang-kurai