Ogi Rogisno: MENYULAM KASIH -OGIROGISNO

MENYULAM KASIH -OGIROGISNO


Senin malam itu. 21 Januari 2013. Aku mengunjungi kediaman seorang wanita nan cantik jelita. Dia menyambut kedatanganku dengan sangat hangat. Dengan senyuman manis yang tersungging dibibirnya. Sumpah, dia, kalau senyum, itu ngalahin gula. (´∀`)
Suasana hening. Dan tapinya,  keheningan itu segera terpecahkan dengan aku yang mencoba membuka percakapan.

“Sepi. Yang lainnya pada kemana de?” Kepoku.

Sebenarnya bukan niatan hati untuk kepo. Tapi ini lebih kepada sebuah kode. Kode menuju keleluasaanku. Jika ditilik dari caraku bertanya, itu berharap bahwa jawabannya nanti adalah titik keleluasaan dari kedatanganku, aman atau tidak. Diganggu atau iya.

“Ada kok a, dirumah yang belakang” Jawabnya menjelaskan.

Jadi, saat itu, aku dengannya berada dirumah depan. Rumah kakek dan neneknya. Sedang keluarganya berada dirumah belakang. Rumah ayah dan ibunya. Sekelebat sang waktu berlalu. Tanpa meminta izin kepadaku dan kepada wanita yang saat itu bersamaku. Telah banyak obrolan hangat yang kami teguk. Dari kehidupan seorang manusia, hingga kematiannya. Dari kehidupan hati seorang aku, hingga kehidupan hatinya.

Suasana sempat kembali hening. Sempat juga tidak hening. Berkesinambungan; Berantoniman. Diantara yang terjadi saat itu, aku membuka handphoneku dari kunciannya. Aku membuka salah satu aplikasi internet yang ada dihandphoneku. Ciyus “Ini susah amat” Updateku pada salah satu akun jejaring sosial-milikku. Pikirku sebelumnya, yaa gampang-gampang saja. Namun ternyata, mengutarakan apa yang hati kita rasakan itu, tidak semudah mengedipkan mata-membalikan telapak tangan-atau bahkan memasukan salah satu jari tangan ke lubang hidung. Seperti apa susahnya? Itu ibarat kita ingin melihat telinga kita sendiri secara langsung tanpa bercermin. Coba saja!

Entah apa yang terjadi, ketika jarum jam pendek mengarah pada angka 10. Dan jarum jam panjang mengarah pada angka 11 lebih 1 menit; 22:56 WIB. Aku mengutarakan apa yang hatiku rasakan-kepadanya. Begini.

“ Aku menyukaimu, menyayangimu dan mencintaimu. Kamu mau tidak menjadi penghuni hatiku? Menjadi pacarku”. Ucapku.

Gemetar seluruh tubuh. Dan keringat menyertai getarannya. Entah karena dari hati atau apa. Aku hilang kendali. Tiba-tiba, ditengah heningnya suasana, sesosok wanita cantik yang tergeletak disampingku itu angkat bicara.

“Bukankah kamu baru mengenalku dalam waktu yang belum begitu lama? Kok bisa secepat itu?”

Tetttt (Pasien Kritis) Stadium akhir  …

“Bicara tentang cinta, bicara pula tentang hati. Cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Serta tak harus mempermasalahkan berapa lama dia mengenal. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab apa yang ku ucapkan sekarang. Entah kapan dan apa jawabanmu nanti. Kelapangan hatiku untuk menerimanya sudah kupersiapkan. Gunakan hatimu untuk menjawabnya ya. Jangan pernah mendustainya. Jika jawabanmu nanti tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya hatimu rasakan, maka ucapmu yang terlontar pun tidak akan mengindahkan peristiwa selanjutnya”. Tuturku panjang.

Ku perhatikan, dia mengangguk pelan. Tanda bahwa dia menyetujui apa yang ku tuturkan. Selang beberapa menit dari peristiwa 22:56 WIB itu. Aku berniat pulang dari rumah itu. Rumah kakek dan neneknya. Dengan kata lain, obrolan hangat yang sedari tadi kami teguk harus terhenti-saat itu. Disatu sisi, dia mengamini niatku. Disisi lain, rintikan kecil hujan dimalam itu, seolah mencegahku agar tidak meninggalkan tempat itu. Meninggalkan wanita nan cantik jelita itu.

“Aku pulang ya. Gapapa kan? Atau apa-apa ya?”
“Gapapa kok a. Tapi gerimis loh a”
“Gapapalah, asal hatiku tak seperti langit yang sedang menangis itu” Candaku membumbui.

Sekali lagi, dia tersenyum. Sekali lagi, ngalahin gula. Haha (´∀`)

Aku berlalu dengan pertanyaan yang masih tergantung. Dengan perasaan yang masih tertunda diantara tumpukan peristiwa tadi. Malam telah larut, hingga menidurkan dua hati yang tengah dialiri tegangan asmara sebuah cinta.

Esok harinya. Selasa pagi itu. 22 Januari 2013. Ketika jarum jam pendek mengarah pada angka 05. Dan jarum jam panjang mengarah pada angka 08; 05:40 WIB. Ketika itu pula, lantunan nada pesan masuk, mengisarat dihandphoneku. Yang efeknya membangunkanku dari lelapnya tidur. Lalu, kubuka handphoneku dari kunciannya. Ku buka pula pesan masuk yang menghiasi handphoneku.
“Selamat pagi aa. Bangun heh :p” Isi pesan itu diantara aku dan kantukku.
“Selamat pagi juga adik. Udah kok”. Balasku
“Pertanyaan semalem masih berlaku?”
“Masihlah de :)”
“Serius tapi yang semalem diomongin itu? Oke a, aku mau jadi penghuni hati aa. Jadi pacar aa. Tapi, ada syaratnya. Aa jangan nyakitin yaa. Terus nilai sekolah aa juga jangan sampai pada turun hanya gara-gara pacaran. Pokoknya nilai sekolah aa harus tetep bagus. :)”  Jawabnya disertai syarat dan saran cantik.

Sinar mentari pagi membias dari ufuk timur. Melumuri jawaban cantiknya. Jawaban cantik yang membahagiakan hatiku. Bahagia itu adalah ketika apa yang hati kita rasakan, berbanding lurus dengan apa yang hati dia rasakan. Satu kesatuan dalam kurva asmara. Aku, selama beberapa kali menyulam kasih diantara jaitan-jaitan sayang. Baru kali pertama menemukan sepotong hatiku yang memedulikan urusan sekolahku; nilai-nilai sekolahku. Terima kasih sayang. :*

Hari mulai siang. Aku berangkat menuju tempatku menimba ilmu.
Singkat cerita, Sore harinya.

“Selamat sore sayang”
“Selamat sore juga sayang”
“Baru pulang Les ya?’
“Begitulah :)”
“Istirahat aja dulu yang. Nanti disambung lagi”
“Udah gapapa yang. Gak cape ini aanya juga”
“Yakin? Emang lagi apa sayang?”
“Yakin. Lagi mencoba memikirkan kamu, sayang”
“Ihh serius :p”
“Aa juga serius coy :p Kamunya lagi apa sayang?”
“Lagi nonton TV. Mandi dulu coy”
“Nanti aja, saya belum mau meninggalkanmu. Kamu juga jangan meninggalkanku ya. Haha :D”
“Ihh nakal :p Tentu. Selama anda tidak berubah”
“Maaf, aa kan bukan power ranger :D”
“Aiih pinter ngajawabnya ya ini orang :D”
“Haha. Eh, tau (nama wanita yang dimaksud) gak? Tolong ya bilangin sama dia.
Salam sayang dari saya :*”
“Bilangin juga sama yang baca sms ini, salam sayang juga gitu yaa :*”

Aihhh hari ini berlangsung dengan sangat sukses. Dengan jaitan-jaitan sayang antara aku dengan pujaan hatiku. Pesan-jawab antara dua potong hati yang telah menjadi satu ini, berlangsung secara indah. Secara sederhana namun berkisah.

Singkat cerita, sabtu sore. Suasana mendung menghampiri dunia. Aku, melayangkan sebuah pesan singkat kepadanya.

“Aku tidak bisa menjadi seperti orang-orang terdahulumu; yang pernah menghiasi hatimu. Beginilah aku dengan ketidakbisaanku menjadi seperti mereka. Beginilah aku dengan kesederhanaanku mencintaimu. Entah kamu peduli atau tidak, aku hanya ingin kamu menerimaku dengan apa adanya aku. Bukan berharap dengan apa-apa yang kamu harapkan dariku. Maaf aku.
Maaf sayangku”. Pesanku-padanya.

Satu menit, dua menit, dan … -1 pesan diterima-

“Loh kok smsnya begitu? Aku mencintaimu tulus dengan segala kekuranganku sayang. Tanpa  memikirkan bagaimana kamu dari masa lalumu”. Pesannya-padaku.

Rintikan kecil hujan menderai lembut. Gerimis menyertai ungkapan tulusnya. Sejak saat itu, aku dan dia yang kini telah menjadi kita dalam cinta, menjalani roda percintaan dengan keapaadaanya cinta. Tak berharap seperti apa yang biasanya orang lain harapkan pada pasangannya. Bukankah cinta itu seharusnya memang tidak menuntut?

Bumi terus berputar pada porosnya. Waktu terus berjalan pada jalurnya. Aku, tetap pada satu hati. Dia, InsyaAllah tetap juga pada satu hati. Sabtu malam. Aku membuka salah satu aplikasi internet yang ada dihandphoneku. Aku membuka salah satu akun jejaring sosial-milikku. Banyak sekali, kata-kata ungkapan hati yang mengkalimat diberanda itu. Ku baca semua itu, tidak ku sukai semua itu. Saat sibuknya aku, aku menemukan statusnya; sepotong hatiku. Sepertinya, isi statusnya lebih kepada sebuah masalah. Logout dan segera ku layangkan pesan kepadanya.

“Ada masalah ya?”
“Enggak ada apa-apa kok a”

Cewek, kalau bilang “Enggak ada apa-apa” itu “Ada apa-apa”.

“Berbohong itu menyakiti dua hati Sayang. Hatimu, dan hati orang yang dibohongimu. Yakin? Mau menahan hatimu yang sebenarnya ingin bicara? Kalau masalah ditimbun itu ujung-ujungnya malah enggak enak dihati”
“Ada masalah sih. Tapi enggak semua masalah mesti diceritain kan a? Iya  yakin. Maaf ya a”
“Ya udah gimana kamu aja. Asalkan itu nyaman kamu jalanin. Sekali lagi aku tidak akan memaksa”
“Terima kasih a sudah ngertiin aku”

Tidak terbuka bukan berarti tidak cinta. Bukankah ada saatnya dimana kita mesti tahu dan mesti tidak dulu?. Kadang memaksa juga bukan tindakan yang baik. Menyerahkan kepadanya dengan orientasi dia nyaman menjalaninya adalah cara yang tepat.

Terasa, suasana malam minggu memberikan pedih pada sepasang kekasih yang berjarak setiap malam minggu dan minggunya ini. Obati pedihnya adalah dengan cara menghubunginya. Meski hanya sekadar melalui handphone. Sesekali, aku mencoba memandang fotonya. Memandang fotonya? Iya, memandang gambar wajahnya. Akibatnya apa? Rindu. Sebuah rasa yang menyakitkan karena tidak bertemu. Tindakan sederhana itu hanya mengaliri rasa rindu. Dan itu menyakitkan sekali pikirku.

22 Januari 2013 itu, telah menjadi alasan hubungan kita. Seorang Ogi dengan seorang (nama wanita yang dimaksud). Menjadi titik asmara antara aku dengannya. Titik sebuah sulaman kasih melalui jaitan-jaitan sayang. Disaat kenyamananku menyulam kasih bersamanya, kembali tidak terasa sang waktu berlalu tanpa izin kepadaku dan kepada sepotong hatiku. 22 Februari datang. Dengan kata lain, hubungan kita menginjak pada bulan pertama. Pagi hari itu. Sebuah pesan singkat ku layangkan padanya.

“Nafas pagi ini adalah anugerah untuk hidup yang penuh dengan berkah. Bersyukurlah untuk setiap hari yang diberikan Tuhan kepada kita. Sayang, lihatlah sinar mentari yang membias dari ufuk timur. Memberikan isyarat ketenangan pada jiwa kita. Sayangku, usia hubungan kita sudah menginjak pada bulan pertama. Happy Anniversary Kekasihku. Semoga saja, apa yang kita semoga-semogakan selama ini dapat terealisasikan pada kehidupan sesungguhnya. Sayang selalu, selalu menyayangiku. Bahagia selalu, selalu membahagiakan. Aku menyayangimu. Seperti kamu yang menyayangiku. (nama wanita yang dimaksud) ♥”.

Tak lama dari waktu yang aku gunakan untuk mengirim pesan tersebut, dia, kekasihku, membalasnya.

“Amin Ya Allah. Happy Anniv juga aa Sayang. Semoga lebih baik karena akupun menyayangimu OgiRogisno :*”
“Amin Ya Allah”

Semua manusia yang hidup dibawah kolong langit ini. Pasti berharap kepada sesuatu yang beraroma baik. Semisal suatu hubungan yaa longlast contohnya. Semisal yang lain yaa tergantung situasinya. Bahwa semua yang manusia harapkan, kita kembalikan kepada barometer Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena hanya Dzat-Nya lah yang menentukan semua yang kita harapkan. Jalani saja apa yang ada, tanpa menuntut sesuatu yang jauh dari kesempurnaan. Seperti apa yang dilakukan manusia pada umumnya. Berharap juga sudah menjadi salah satu dari ritualku. Semoga saja, kisah cintaku ini dengannya tak seumur jagung. Tak seumur dengan umur yang pendek-pendek. Dalam artian, longlast lebih tepatnya. Amin

Wahai kamu. Jika kamu membaca tulisanku ini. Aku berterima kasih kepada sosokmu, yang telah hadir dalam hidupku. Terima kasih atas tulusnya kamu menerimaku dengan apa adanya aku Sayang. Terima kasih atas warna indah yang kaulukis pada kanvas hidupku. Terima kasih atas segalanya. Aku, menyayangimu, lebih dari yang kaubayangkan selama ini. Muah :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.

Copyright © Ogi Rogisno Urang-kurai