Ogi Rogisno: MAAF, AKU MENGAGUMIMU Eps.1 -OGIROGISNO

MAAF, AKU MENGAGUMIMU Eps.1 -OGIROGISNO


Perhatian :
Setiap karya yang terlahir dari tangan dan pikiran saya, itu bukan berarti selalu sama dengan apa yang saya alami. Bisa saja karena terinspirasi dari cerita orang. Atau, ngarang! Selamat membaca.

Kisah ini belum terlalu usang. Berangkat dari saat seragam yang akukenakan adalah bukan seperti seragam yang akukenakan seperti kemarin. Yaitu saat di mana kita terlihat agak bodoh, Selalu ingin terlihat gaul dimata orang banyak dengan tingkah yang konyol, dengan tulisan 4L4Y “Baca Alay”, dan dengan sedikit mencari perhatian orang lain.

Sejak sekolah menengah pertama itu, aku sudah menyimpan rasa yang tidak lagi biasa-terhadapmu. Rasa yang penuh dengan kebahagiaan ketika sosokmu berjalan didepanku. Rasa yang penuh dengan keindahan sederhana ketika kaumengucapkan namaku. Ini-bukan-cinta. Pikirku yakin. Karena memang tidak mungkin !

Aku hanya mengagumimu. Mengagumi sosok yang tak biasa sepertimu. Sosok yang selama ini kutatap dengan tatapan yang tidak lazim. Sosok yang selama ini selalu menjadi alasan utama dibalik senyum dan tangisku.

Salahkah jika aku seperti ini? Salahkah jika aku menaruh rasa yang tidak lagi biasa terhadapmu? Salahkah jika aku menatapmu dengan tatapan yang tidak lazim? Salahkah jika aku menjadikanmu alasan dibalik senyum dan tangisku? Banyak pertanyaan yang menyusup bertubi-tubi dalam memoriku. Yang akhirnya membawaku kepada ketidakbisaanku menjawabnya satu persatu. Yang akhirnya menggantung hanya karena rasa kagumku-terhadapmu.

Aku tidak tau, kenapa aku tetap mengagumimu, sedang akutau, kamu tetap mengabaikanku. Aku tidak tau, kenapa aku tetap pada rasaku, sedang akutau, kamu tetap memasabodokanku. Aku juga tidak tau, kenapa aku tetap menyayangimu, sedang akutau, kamu tetap tak pedulikan hadirku.

Salahkah jika aku yang menyimpan rasa lebih terhadapmu? Salahkah jika aku yang mengagumi sosokmu? Dan apa salahkah juga jika aku menyayangi sosokmu? Tidak bisa ku jawab lagi. Menggantung karena rasaku sendiri.

Sekian tahun berlalu. Hingga menyeret masaku pada masa putih abu-abu. Aku dan kamu, berpisah. Oh mungkin lebih tepatnya “terpisah”. Waktu berlalu tanpa berjabat tangan dan mengucapkan salam kepadaku. Ya ya mungkin karena waktu tidak makan bangku sekolahan, sehingga dia berlalu dengan tidak sopan. Seperti kamu, kekagumanku.

Beribu detik terlewati. Oh mungkin lebih. Kamu, masih saja berputar-putar dalam memoriku. Aku kecanduanmu. Aku tak bisa lupakanmu. Memori dimasa putih biruku ternyata masih sama dengan masa putih abu-abuku. Yaitu, memikirkanmu. Kasihan aku!

Suatu ketika, tanggal dan bulan kelahiranmu tiba. Pikirku, aku ingin memberi sedikit coretan tinta kehidupan dihari istimewamu. Kata orang, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Berangkat dari situlah, tiap minggunya aku mencoba menyisihkan sedikit uang dari jatah uang jajanku; hanya untukmu, Kekagumanku. Saat tibanya waktu tersebut, aku … Sepertinya bagian ini jangan diteruskan ya. Ketika mengingat, dan menulisnya kembali saja, hati ini sudah menjadi lempengan nista yang berserakan. .___.

Singkat cerita, setelah perisitiwa di atas, aku mencoba untuk tak lagi bertemu dengannya. Sakit yang dia gurat secara nyata itu, adalah seperti mengusirku secara halus dari kehidupannya.

Satu hari berlalu, aku sukses untuk tak lagi bertemu dengannya, dua hari, tiga hari, dan satu pekan. Aku bisa. Aku bisa untuk tak lagi bertemu dengannya. Kau; memang tak pernah pedulikanku. Tak pedulikan hadirku. Memangnya, Kapan kaupeduli dengan sesuatu yang bukan kausendiri? Aku misalnya. Kapankau peduli dengan sesuatu yang bukan kausendiri? Perasaanku misalnya. Kapan kaupeduli dengan sesuatu yang bukan kausendiri? Kepedulianku misalnya. Jawabannya adalah belum dan mungkin tidak akan pernah. Kalaupun iya, mungkin itu saat setelah kau diabaikan oleh orang yang kau kagumi. Ya seperti aku-olehmu ini misalnya.


Thanks for Reading. To be continue. 
MENGAGUMINYA; DISAKITINYA Eps. 2 -OGIROGISNO 
http://ogirogisno.blogspot.com/2013/09/mengaguminya-disakitinya-eps-2.html#pages/2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak.

Copyright © Ogi Rogisno Urang-kurai